Peneliti Amerika Sebut Varian Omicron Masih Sebabkan Orang Sekarat

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 10 Januari 2022 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 10 612 2530112 peneliti-amerika-sebut-varian-omicron-masih-sebabkan-orang-sekarat-IoYl2pK11x.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

VARIAN Omicron memang menjadi varian yang paling berbahaya sejauh ini. Varian omicron pun menjadi biang keladi kenaikan jumlah kasus positif Covid-19 di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Menurut Carter-House, omicron sekarang menjadi jenis penyakit yang dominan di Amerika Serikat, dan meskipun data CDC menunjukkan rata-rata kasus harian meningkat dari 87 menjadi 490.000, jumlah kematian tetap sekitar 1.100 per hari.

"Namun, seperti yang kami pelajari dari varian Delta, jumlah kematian dapat mengikuti angka kasus," kata Derreck Carter-House, PhD, ilmuwan, pengembangan pengujian di Clear Labs , pemimpin dalam pengurutan generasi berikutnya (NGS) seperti dilansir Antara dari Healthline.

Priscilla Marsicovetere, JD, PA-C, Dean of the College of Health & Natural Sciences di Franklin Pierce University memperingatkan agar masyarakat tidak lengah. Data empiris, termasuk statistik kesehatan masyarakat dan penelitian peer-review, menunjukkan bahwa omicron menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada varian Covid-19 sebelumnya.

Dia menambahkan bahwa meskipun ini adalah berita yang menggembirakan, lonjakan omicron masih memiliki efek yang parah. "Faktanya adalah infeksi masih terjadi, sistem perawatan kesehatan masih ditekankan, masyarakat masih terpengaruh, dan orang-orang masih sekarat karena Covid-19," ujar Marsicovetere.

Dia juga menjelaskan bahwa dampak potensial dari lonjakan tambahan, atau yang lebih penting, mutasi lebih lanjut dari virus corona dapat memiliki dampak menghancurkan pada kemajuan yang telah dibuat dalam mengatasi Covid-19.

"Langkah-langkah keselamatan kesehatan masyarakat, termasuk vaksinasi, masker, dan jarak fisik jika perlu, masih merupakan langkah kunci dalam perjuangan berkelanjutan kami melawan Covid-19," katanya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini