Indonesia Target Tekan Angka Stunting hingga 14 Persen

Siska Permata Sari, Jurnalis · Selasa 11 Januari 2022 13:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 11 481 2530458 indonesia-target-tekan-angka-stunting-hingga-14-persen-mjNl8ojSkY.jpg Stunting (Foto: The telegraph)

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pemerintah menargetkan untuk menekan angka stunting menjadi 14 persen di tahun 2024. Target penurunan angka stunting tersebut merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Tadi Bapak Presiden memberikan target yang jelas, yaitu menurunkan angka stuntingnya kita yang per tahun 2021 ada di angka 24,4 persen, beliau harapkan bisa di angka 14 persen di tahun 2024,” kata Menkes Budi Gunadi dikutip dari konferensi pers virtual, Selasa (11/1/2022).

 menekan angka stunting

Dengan target tersebut, dia mengatakan bahwa angka stunting di Indonesia harus diturunkan hingga 2,7 persen per tahun. Untuk mewujudkan penurunan stunting tersebut, pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan melakukan sejumlah upaya intervensi.

“Untuk menurunkannya, memang ada dua intervensi yang bisa kita lakukan. Pertama, intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif,” ujarnya.

Kemenkes, sambung dia, akan mengupayakan intervensi gizi spesifik yang mencakup di waktu sebelum dan setelah bayi lahir. Mulai dari memastikan remaja putri dan ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah (TTD), hingga memastikan bayi dan balita di Indonesia mendapatkan gizi cukup di 1000 hari pertama kehidupan.

“Kita juga intervensi untuk meningkatkan jumlah konsultasi ibu hamil dari 4 kali menjadi 6 kali, dan itu harus dengan dokter. Jadi kalau ada perkembangan kurang bagus dari kehamilan, dokter tahu dan akan melakukan intervensi medis. Kemudian yang kita lakukan adalah, kita akan melengkapkan alat USG di seluruh Puskesmas. Sekarang baru 2.000 Puskesmas yang punya USG,” ujarnya.

Lebih lanjut, setelah lahir, bayi dan balita juga akan dipastikan kecukupan gizinya. Terlebih setelah selesai pemberian air susu ibu (ASI).

“Setelah ASI selesai dan dikasih makanan tambahan, itu diusahakan diberikan telur satu sehari dan susu, ini dananya bisa diambil dari dana desa. Lalu intervensi yang bisa diambil juga, adalah balita ini akan diukur setiap sebulan. Kita ubah aturannya, dari 6 bulan sekali jadi satu bulan sekali. Dalam hal ini, kami akan melengkapi alat pengukur tinggi dan berat ke seluruh desa,” papar Budi.

 Baca juga: Waspada, Anemia Bisa Sebabkan Anak Stunting Loh

Di luar gizi bayi dan balita yang harus terpenuhi, hal yang tak kalah penting adalah imunisasi. “Kita juga menambah dua vaksinasi dasar yang banyak berakibat terhadap infeksi bayi-bayi ini agar mereka tidak sakit, yaitu vaksinasi pneumonia dan diare. Diharapkan di dua tahun pertama mereka atau 1000 hari pertama kehidupan mereka tidak sakit sehingga gizi yang masuk bisa untuk pertumbuhan bukan melawan penyakit,” tukasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini