Tekan Angka Stunting, Kemenkes Tambah Dua Vaksinasi Anak

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 11 Januari 2022 14:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 11 481 2530526 tekan-angka-stunting-kemenkes-tambah-dua-vaksinasi-anak-gY04jW8FFU.jpg vaksinasi anak (Foto: helsana)

KEMENTERIAN Kesehatan bersama BKKBN memasang target penurunan angka stunting di Indonesia menjadi 14 persen di tahun 2024.

Data teranyar menunjukkan angka stunting per tahun 2021 masih ada di angka 24,4 persen. Dalam kurun waktu dua tahun, angka stunting harus bisa turun sampai 3 persen, atau setidaknya 2,7 persen per tahunnya.

 Menkes

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, program imunisasi lengkap pada bayi dan balita jadi salah satu strategi Kemenkes untuk bisa menurunkan angka stunting di Indonesia.

“Kita pastikan imunisasi lengkap ini naik lagi dan integrasi dengan sistem vaksinasi covid-19, jadi monitoring jauh lebih berbasis teknologi dan real time,” ujar Menkes Budi, dalam siaran langsung Keterangan Pers Menteri terkait Ratas “Strategi Percepatan Penurunan Stunting”, Selasa (11/1/2022).

Imunisasi dasar anak juga akan ditambah menjadi dua, untuk mencegah penyakit diare dan pneumonia.

“Kita juga menambah dua vaksinasi dasar yang banyak berakibat terhadap infeksi bayi-bayi ini agar mereka tidak sakit, yaitu vaksinasi pneumonia dan diare,” tambahnya.

Tambahan pemberian vaksinasi pneumonia dan diare, diharapkan bisa menambah kualitas hidup 1000 hari pertama di masa pertumbuhan anak.

 Baca juga: Cegah Stunting, Berapa Panjang Bayi Ideal saat Lahir?

“Diharapkan dua tahun pertama atau 1000 hari kehidupan anak tidak sakit, sehingga gizi yang masuk bisa untuk pertumbuhan bukan melawan penyakit,” kata Menkes Budi.

Menggenjot program imunisasi ini juga dibarengi bersamaan sederet upaya lainnya, yakni sebagai berikut.

1. Menambah intensintas konsultasi dokter, ibu hamil konsultasi awalnya hanya 4 kali menjadi wajib enam kali.

2. Pemberian telur dan susu secara gratis, dana diambil dari dana desa.

3. Perubahan aturan pengukuran tinggi dan berat badan balita menjadi wajib satu kali dalam satu bulan.

4. Pemberian alat timbangan dan alat ukur tinggi badan ke seluruh desa oleh Kemenkes, sehingga diharapkan pelaporan bisa dilakukan secara digital.

5. Rujukan ke puskesmas dan RS jika ada bayi balita mengalami kurang berat badan dan tinggi. Menkes Budi menyebutkan akan merombak aturan, sehingga kasus seperti ini bisa ditanggung BPJS di rumah sakit.

6. Tata laksana gizi, Kemenkes akan memasukkan tata laksana gizi ke paket BPJS agar balita stunting bisa ditangani di rumah sakit.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini