Buatan Dalam Negeri, Seberapa Efektif Molnupiravir Tangani Covid-19?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 14 Januari 2022 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 14 612 2532124 buatan-dalam-negeri-seberapa-efektif-molnupiravir-tangani-covid-19-2idVNjo8WS.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

GUNA menghadapi ledakkan kasus Covid-19 akibat varian Omicron, pemerintah pun telah mendatangkan sejumlah obat dan memberikan tabung oksigen ke sejumlah rumah sakit. Pasalnya, belajar dari gelombang 2 akibat varian Delta, saat itu kebutuhan tabung oksigen memang sangat tinggi.

Sementara untuk obat, didatangkan agar menekan angka kasus kematian serta mempercepat pemulihan dari virus Covid-19. Salah satu obat yang digunakan adalah molnupiravir.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan Emregency Use Authorization (EUA) untuk Molnupiravir pada Kamis 13 Januari 2022. Obat ini diindikasikan untuk pengobatan infeksi Covid-19 ringan sampai sedang pada pasien dewasa usia 18 tahun ke atas.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito mengatakan dalam mendukung ketersediaan obat Covid-19 di Indonesia, PT. Amarox Pharma Global selaku produsen Molnupiravir melakukan persiapan produksi lokal Molnupiravir kapsul melalui teknologi transfer di fasilitas produksi Amarox Cikarang.

“Surat persetujuan penggunaan fasilitas produksi kapsul nonbetalaktam telah diterbitkan pada 3 Januari 2022, dan setelah persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dapat dipenuhi oleh industri maka produksi lokal direncanakan siap diproduksi pada awal Maret 2022," kata Penny, dalam siaran pers di laman resmi BPOM, Jumat (14/1/2022).

Dengan diproduksinya Molnupiravir di dalam negeri, maka akan semakin meningkatkan upaya Indonesia dalam mendukung kemandirian industri obat dalam negeri. Selain itu, Badan POM juga terus melakukan pengawasan pada rantai produksi dan distribusi obat agar keamanan, khasiat, dan mutu obat yang beredar dapat dipertahankan serta mencegah penggunaan obat ilegal.

Pengawasan ini dilakukan dari hulu ke hilir, diantaranya: pengawasan pemasukan Bahan Baku Obat (BBO), pengawasan sarana produksi obat melalui aspek CPOB, pengawasan di sarana distribusi obat melalui aspek Cara Distribusi Obat Yang Baik (CDOB), melakukan sampling dan pengujian terhadap produk obat yang beredar, serta melakukan pro justitia terhadap tindak pidana di bidang obat.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk selalu menjadi konsumen yang cerdas dan lebih waspada sebelum membeli atau mengonsumsi produk obat. Pastikan hanya membeli obat dengan izin edar dan di sarana resmi, yaitu Apotek, Toko Obat, Puskesmas, dan Rumah Sakit terdekat," lanjut Penny.

Ia menambahkan bahwa untuk mendapatkan obat keras harus berdasarkan denan resep dokter. Resep ini didapatkan melalui konsultasi kepada dokter. Selain itu, Badan POM secara konsisten mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dan menyukseskan vaksinasi sebagai upaya kunci dalam memutus rantai penyebaran Covid-19.

Masyarakat juga diminta untuk bijak dan berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan yang digunakan dalam penanganan Covid-19. Selain itu masyarakat juga tidak boleh mudah terpengaruh dengan promosi produk obat, obat tradisional maupun suplemen kesehatan dengan klaim dapat mencegah atau mengobati Covid-19.

Perlu diketahui, Molnupiravir ini hanya dapat diberikan pada pasien yang tidak memerlukan pemberian oksigen dan memiliki peningkatan risiko menjadi infeksi Covid-19 berat. Untuk dosisnya, obat ini diberikan dua kali sehari sebanyak 4 kapsul (@200 mg) selama 5 (lima) hari.

Terkait aspek efikasi, hasil uji klinik fase 3 menunjukkan Molnupiravir dapat menurunkan risiko hospitalisasi atau risiko dirawat di rumah sakit bahkan kematian sebesar 30 persen. Kondisi ini berlaku pada pasien Covid-19 derajat ringan hingga sedang. Sedangkan untuk pasien Covid-19 ringan, efikasinya mencapai 24,9 persen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini