Share

Luna Maya Bekukan Sel Telur, Ternyata Begini Prosedurnya

Intan Afika, Okezone · Selasa 18 Januari 2022 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 612 2534024 luna-maya-bekukan-sel-telur-ternyata-begini-prosedurnya-rVPC36ywL4.jpg Luna Maya. (Foto: Instagram)

ARTIS cantik Luna Maya memang belum membicarakan tentang pernikahan di depan publik, bahkan sampai saat ini dia nampak masih nyaman sendiri dan belum mempublikasikan hubungannya. Nah, ada risiko bagi seseorang yang melakukan pernikahan di usia senja, apalagi perempuan, yakni masa kehamilan.

Di usianya yang sudah tidak lagi muda, tentu risiko saat hamil akan semakin tinggi, apalagi memasuki masa menopause. Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan adalah membekuan sel telur.

Sel telur yang beku itu disimpan, kemudian bisa dicairkan dan dibuahi, lalu ditanam di rahim jika berencana hamil. Menurut Luna, dia sudah ingin menjalankan prosedur ini sejak lama. Namun memang teknologi tersebut baru tersedia di Indonesia.

Membekukan sel telur dan sperma memang cukup populer dilakukan. Di luar negeri, banyak pria dan wanita yang telah melakukan hal tersebut sebagai bentuk 'investasi' di masa depan. Seperti yang diketahui, seiring bertambahnya usia, kualitas sel telur dan sperma semakin menurun.

Luna Maya

Bagi pria dan wanita yang berencana memiliki anak di masa depan tapi belum mau menikah, membekukan sel telur atau sperma bisa menjadi alternatif demi menjaga kualitas. Nantinya sel telur atau sperma yang dibekukan itu baru akan digunakan saat siap memiliki anak.

Ahli embrio, Profesor Arief Boediono, PhD yang berpraktek di Morula IVF Jakarta, menerangkan bila sebenarnya kebutuhan pasien untuk membekukan sel telur, sperma, atau embrio cukup banyak dan teknologinya sendiri sudah tersedia. Hanya saja memang belum banyak yang mengetahui.

"Ambil contoh pembekuan sel telur pada wanita karier yang belum menikah. Di masa depan dia ingin punya anak dari sel telur berkualitas, namun di lain sisi virginitas di Indonesia masih diutamakan. Sementara untuk pembekuan sel telur diambilnya harus melalui intra vagina, itu masih menjadi masalah," jelas Prof Arief.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Akan tetapi, pada kondisi tertentu, Prof Arief menyarankan agar masyarakat membekukan sel telur atau spermanya. Contoh pada seseorang yang baru didiagnosis terkena kanker namun belum menikah atau memiliki anak. Sebelum melakukan kemoterapi, ada baiknya sel telur atau sperma dibekukan. Sebab setelah kemoterapi sel telur atau sperma sudah tidak sehat lagi.

"Saya sempat diskusi dengan dokter di RS Kanker Dharmais, ternyata ada komunikasi yang belum jalan. Jadi sebenarnya banyak pasien kanker, baik pria maupun wanita, setelah kemoterapi sel telur dan spermanya rusak sampai 0. Kalau rusak, 0, ketika menikah ingin punya anak sudah tidak ada harapan lagi," tutur Prof Arief.

"Oleh karenanya, bila ada pasien yang harus kemoterapi dengan kondisi belum menikah dan berpikir suatu saat ingin menikah dan punya anak, lebih baik segera egg banking atau sperm banking, dibekukan. Baru setelah itu penyakitnya ditreatment supaya sembuh, sehat. Setelah itu dengan sel telur atau sperma yang dibekukan bisa punya anak," tambah Prof Arief.

Pembekuan sel telur dan sperma juga bisa dilakukan oleh pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh dan sedang program hamil. Program bisa menjadi terganggu apabila di saat istri sedang dalam masa subur suaminya tidak ada karena harus bertugas. Dengan membekukan sperma, pembuahan bisa dilakukan kapan saja melalui teknologi tanpa harus berhubungan badan.

"Jadi pas istri sedang dalam masa subur, bisa dilakukan fertilisasi atau pembuahan menggunakan sperma yang dibekukan," pungkas Prof Arief.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini