Share

Benarkah Vaksin Booster Akan Disuntikkan Setiap 6 Bulan Sekali?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 20 Januari 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 19 481 2534759 benarkah-vaksin-booster-akan-disuntikkan-setiap-6-bulan-sekali-IPbaGtDC16.jpeg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

PEMERINTAH telah memulai kick off vaksinasi booster pada Rabu 12 Januari 2022. Vaksin booster ini diberikan kepada masyarakat di atas usia 18 tahun dengan syarat sudah melewati 6 bulan vaksinasi dosis kedua atau lengkap. Vaksinasi booster diberikan dalam upaya memperkuat titer antibodi usai mendapatkan vaksinasi lengkap.

Namun, belum lama ini beredar informasi di media sosial Facebook yang menyebutkan bahwa vaksinasi booster Covid-19 akan diberikan kepada masyarakat setiap 6 bulan sekali. Pemberian booster setiap 6 bulan sekali itu disebut karena antibodi yang menurun setelah sekian bulan suntikan. Lantas apakah informasi ini fakta atau hanyalah hoax semata?

Vaksin Booster

Merangkum dari laman Instagram resmi Komite Percepatan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), @lawancovid19_id, Kamis (20/1/2022), memastikan bahwa informasi yang beredar di media sosial tersebut salah atau hanyalah hoax semata.

Baca Juga : Dokter Reisa Sebut Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Tembus 300 Juta Dosis

Baca Juga : Presiden Jokowi: Sudah Vaksin Lengkap, Segera Cari Vaksin Booster

Cek Fakta

Epidemiolog sekaligus Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS), dr. Tonang Dwi Ardyanto mengatakan antibodi yang menurun bukan satu-satunya indikator pemberian booster. Beberapa penelitian memang menyebut bahwa antibodi di dalam tubuh yang dihasilkan vaksin COVID-19, menurun setelah 6 bulan menerima dosis kedua.

Kendati demikian, temuan ini tidak bisa menjadi dasar pemberian vaksin Covid-19 setiap 6 bulan sekali. Adapun kebijakan booster vaksin Covid-19 dari pemerintah saat ini diperuntukkan bagi usia 18 tahun ke atas, minimal 6 bulan setelah dosis kedua dan di daerah dengan cakupan vaksinasi 70 persen penduduk untuk 1 dosis dan 60 persen untuk dosis lengkap.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini