Share

Alasan Pemerintah Gelar PTM di Tengah Serangan Omicron

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 20 Januari 2022 19:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 20 612 2535370 alasan-pemerintah-gelar-ptm-di-tengah-serangan-omicron-BhChAi6uUY.jpg Varian Omicron (Foto: NDTV)

SEJAK Januari 2022, pemerintah memberlakuan aturan kepada semua satuan pendidikan pada wilayah PPKM level 1, 2 dan 3 wajib untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas.

Kembalinya anak-anak ke sekolah untuk belajar secara langsung ini, menimbulkan kecemasan besar bagi orang tua. Mengingat saat ini, dunia termasuk Indonesia tengah menghadapi serangan varian Omicron yang penyebarannya, penularannya memang lebih cepat.

 sekolah tatap muka

Para orangtua pun jadi bertanya-tanya, kenapa pemerintah justru membuka kembali sekolah. Padahal pandemi Covid-19 belum usai dan ditambah adanya serangan dari varian terbaru, Omicron.

Disampaikan Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd, Ditjen Paud Dikdas dan Dikmen, Direktur Sekolah Dasar, Kemdikbudristek RI. Pemerintah memutuskan untuk kembali menggelar PTM, salah satu faktor utamanya karena melihat dampak ketertinggalan pada anak-anak sekolah sudah cukup banyak.

“Sudah dilakukan berbagai evaluasi dari lembaga dalam dan luar negeri, masyarakat juga sudah merasakan dampaknya. Bahwa PJJ (pembelajaran jarak jauh) itu menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah kualitas mutu capaian pembelajaran,” ujar Dra. Sri, dalam webinar Ruang Keluarga SoKlin Antisep “PTM di Tengah Kasus Omicron yang Beranjak Naik, Kamis (20/1/2022).

Sri memberi contoh, dari pantauan pemerintah, banyak anak-anak usia sekolah dasar yang mengalami ketertinggalan ilmu cukup ekstrim karena mengalami kemunduran alias loss learning kurang lebih satu semester.

“Dampaknya cukup banyak, ketertinggalannya sudah banyak. Contoh, masih ditemukan anak-anak kelas 3 dan 4 SD itu masih enggak bisa baca loh. Kelas 3-4 ini ekstrim ketertinggalannya,” tambahnya.

Tidak hanya soal capaian kualitas hasil belajar anak, PJJ selama kurang lebih dua tahun ini juga disebut Sri berpengaruh pada proses karakter anak. Contohnya, anak-anak jadi bermalas-malasan di rumah, hingga terlalu akrab dengan gawai karena terbiasa sebagian aktivitas dilakukan secara online.

Berangkat dari banyak dampak negatif tersebut, Dra. Sri menegaskan, maka dari itu pemerintah memutuskan untuk kembali membuka dan menguatkan aktivitas PTM.

Baca juga: Rasakan Gejala Omicron seperti Ini, Segera ke Rumah Sakit!

“Saat ini PTM dikuatkan lagi, tahun 2022 ini lewat SKB 4 Menteri mendorong setiap satuan pendidikan khususnya yang ada di level 1 dan 2, dan kualitas vaksinnya sudah membaik yang artinya tenaga pendidiknya sudah divaksin, orangtua sudah divaksin, maka dilakukan PTM terbatas durasinya 6 jam, setiap hari, tapi kantin belum boleh dibuka dulu,” pungkas Dra. Sri.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini