Share

Kisah Talita Bocah Pejuang Kanker Leukemia: Kenapa Aku yang Sakit?

Muhammad Sukardi, Okezone · Jum'at 21 Januari 2022 12:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 21 612 2535641 kisah-talita-bocah-pejuang-kanker-leukemia-kenapa-aku-yang-sakit-gLpICHFGQ7.png Talita dan Ibunya. (Foto: YouTube Pita Kuning)

USIANYA masih 7 tahun, tapi Talita sudah harus menerima kenyataan berat dalam hidup. Talita didiagnosis kanker darah atau leukemia.

Diagnosis itu keluar di awal 2021. Tidak disangka gejala demam menjadi awal dari perubahan dalam hidup Talita. Menurut Maryati, ibu Talita, demam yang dialami Talita hilang-muncul beberapa kali. 

Penanganan dengan memberikan obat penurun panas tubuh pun di awal kejadian masih bermakna. Tapi, saat tahu Talita demam lagi usai makan es krim, ditambah berat badannya terus berkurang, Maryati memutuskan untuk membawa Talita ke Puskesmas.

Sesampainya di Puskesmas, lampu mati. Ini membuat Talita tidak bisa ditangani dengan maksimal. Alhasil Maryati membawa Talita ke Rumah Sakit Puri Husada Yogyakarta.

Talita

"Saya putuskan bawa Talita ke Puri Husada karena di sana ada dokter spesialis anaknya," kata Maryati dalam tayangan Youtube Pita Kuning berjudul 'Cerita Anak Pejuang Kanker: Talita Mengawali Tahun 2021 dengan Melawan Leukemia', dikutip MNC Portal.

Tapi, Talita tidak bisa bertemu dengan dokter spesialis anak di hari tersebut. Ia mesti menunggu 2 hari berikutnya untuk dapat jadwal.

Sayangnya, belum juga Talita bertemu dokter spesialis anak RS Puri Husada, kondisinya semakin memburuk di malam hari. Karena kondisinya memburuk, Maryati segera membawa Talita ke IGD RSUD Murangan, Sleman, Yogyakarta. Pemeriksaan intensif pun dilakukan termasuk mengambil darah Talita.

Beberapa waktu kemudian hasil laboratorium keluar. Kadar Leukosit atau sel darah putih Talita di atas 150.000. Bukan kondisi yang baik-baik saja. Sekadar informasi, leukosit tinggi bisa terjadi karena infeksi yang memicu peningkatan pada produksi leukosit, misalnya infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran kemih, infeksi kulit atau bahkan tumor juga bisa menjadi penyebab leukosit tinggi.

Talita

Maryati kemudian membawa Talita ke RS Umum Pusat Dr Sardjito, Yogyakarta. Sampai di sana, Talita langsung diisolasi karena tubuhnya demam tinggi dan ini merupakan bagian dari protokol penanganan pasien di rumah sakit di masa pandemi Covid-19. "Talita di tempatkan di kamar terpisah gitu, kayak diisolasi. Dia di situ 4 hari," cerita Maryati menahan haru.

Daya tahan tubuh Talita dikabarkan terus menurun. Demamnya juga tidak kunjung hilang. Maryati tidak banyak berharap di situasi tersebut. Ia mengatakan, Talita sudah tidak bisa merespons saat diajak bicara, lantaran Hb-nya hanya 2,8, kesadarannya pun sudah tidak 100%. "Aku dan suami (Surahman) cuma bisa berdoa kepada Tuhan," katanya sedikit menangis.

Untungnya, perlahan kondisi Talita mulai membaik, meskipun pil pahit bernama Leukemia itu menjadi penyakit yang tidak bisa lepas dari Talita. Maryati menceritakan kalau Talita beberapa kali pernah mempertanyakan dengan segala yang terjadi, karena dia harus menjalani kemoterapi, yang membuat Talita mulai mengalami kerontokan rambut. 

"Bu, kenapa rambut aku rontok sampai habis?" ungkap Maryati menceritakan pertanyaan Talita yang membuat dirinya hanya bisa menahan tangis.

Bahkan, sambung Maryati, Talita pernah mengeluh tidak kuat dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. "Talita ngedrop banget, terus dia bilang, 'kenapa aku yang sakit?'," ungkap Maryati.

Talita

Bagai disambar petir. Semua berjalan begitu cepat dan tidak ada persiapan untuk menghadapinya. Tapi, menangisi keadaan saja tidak akan pernah mengubah apapun. Maryati pun hanya bisa sekuat tenaga menemani Talita yang suka makan lele goreng itu mendapatkan segala pengobatan. Sebisa mungkin 24 jam ada selalu untuk Talita.

Menurutnya, Talita adalah anak yang luar biasa, ia bisa menerima penyakitnya lengkap dengan segala hal yang berubah dalam hidupnya. "Alhamdulillah, setelah kami besarkan hatinya, Talita menerima semuanya. Pelan-pelan kami obati dengan segala daya dan upaya yang kami miliki. Dia paham dengan kondisinya dan sangat mudah dikasih pengertian," tutur Maryati.

Dalam tanya jawab di video tersebut, Talita pun mengungkapkan mimpinya menjadi dokter spesialis kanker. Mimpi yang sangat mulia, terlebih alasannya yang sangat menyentuh hati. "Cita-cita aku mau jadi dokter kanker. Kenapa? Biar aku bisa sembuhin teman-teman (yang nasibnya sama seperti aku," kata Talita seraya tersenyum di pangkuan ibunya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini