Share

Jangan Diabaikan, Diabetes Penyakit yang Bersifat Progresif

Antara, Jurnalis · Selasa 25 Januari 2022 12:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 25 481 2537417 jangan-diabaikan-diabetes-penyakit-yang-bersifat-progresif-Jg7K3qUGrR.jpg Diabetes (Foto: E medicine health)

DIABETES merupakan salah satu penyakit kronis yang angka kasusnya tergolong di Indonesia yakni hampir mencapai 19 juta kasus dengan pengobatannya yang tergolong tak mudah.

Apalagi diabetes memiliki sifat yang progresif. Hal ini diungkapkan Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD.

Prof. Suastika mengatakan, kendati diabetes termasuk sebagai penyakit yang memiliki sifat progresif, gambaran klinis dan komplikasi yang terjadi berbeda-beda pada setiap orang.

 diabetes

"Mekanismenya kompleks, rumit dan setiap orang berbeda-beda fenotipe-nya. Jadi, gambaran klinisnya berbeda-beda dengan berbagai komplikasi yang berbeda. Jadi, mengobatinya juga tidak gampang," ujarnya.

Di sisi lain, diabetes juga bisa terkait suatu kegagalan yang disebabkan oleh berbagai aspek seperti dari faktor pasien yang kurang pengetahuan tentang penyakitnya dan akses. Selain itu, faktor dokter yang terlalu banyak pasien.

Menurut Prof. Suastika, bila sudah terjadi komplikasi diabetes, maka tidak hanya akan membawa kesakitan dan risiko kematian yang tinggi pada pasien, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan pemerintah maupun pasien.

"Penyakit diabetes salah satu penyakit kronik yang sifatnya tidak berubah setiap saat, bukan harian, maka tepat sekali pasien-pasien dengan diabetes ini bisa diterapkan layanan yang bersifat telemedisin di tengah pandemi," ujarnya.

Sementara itu, upaya penemuan pengobatan diabetes terus dilakukan. Daewoong Pharmaceutical mengonfirmasi keberhasilan pada uji klinis fase 3 pengobatan diabetes. Peneliti utama, Profesor Park Kyung-soo dari Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, dan peneliti dari 22 institusi berpartisipasi dalam uji klinis fase 3 monoterapi ini. Sebanyak 160 pasien dengan diabetes tipe 2 dilakukan penelitian dengan cara multi-organ, acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo, dan konfirmasi terapeutik.

Sebagai hasil konfirmasi titik akhir primer, perbedaan jumlah perubahan HbA1c (HbA1c) antara kelompok Enavogliflozin dan kelompok plasebo pada 24 minggu setelah penerapan obat uji klinis adalah 0,99%, yang menjamin signifikansi statistik (P - nilai< 0,001). Glycated hemoglobin dihasilkan ketika hemoglobin terkena konsentrasi glukosa darah tinggi, dan digunakan sebagai indeks gula darah rata-rata dan secara langsung berhubungan dengan komplikasi diabetes.

Hasil fase 3 terapi kombinasi Enavogliflozin dan metformin juga didapatkan. Uji klinis kombinasi metformin dilakukan pada 200 pasien diabetes tipe 2 yang memiliki kontrol gula darah yang tidak mencukupi dengan metformin, dengan partisipasi peneliti dari 23 institusi, termasuk Profesor Yun Geon-ho dari Rumah Sakit St. Mary Seoul.

Penelitian ditujukan berdasarkan perubahan hemoglobin terglikasi pada kelompok yang diobati dengan Dapagliflozin dan metformin, dibandingkan non-inferioritas Enavogliflozin dan metformin. Selain itu, keamanan dikonfirmasi karena tidak ada reaksi merugikan atau interaksi obat yang ditemukan bahkan ketika Enavogliflozin dan metformin dikonsumsi secara bersamaan.

Para peneliti yang berpartisipasi dalam uji klinis mengatakan, “Enavogliflozin saja dan terapi kombinasi metformin dipastikan memiliki efek penurun gula darah yang sangat baik dan keamanan pada total 360 pasien di Korea dalam uji coba fase 3. Jika efek penurun gula darah yang sangat baik dan keamanan Vogliflozin dikonfirmasi, diharapkan menjadi pilihan pengobatan yang baik untuk pasien diabetes tipe 2.”

Baca juga: Aktor Cilik Matthew White Meninggal, Kenapa Anak Bisa Terkena Diabetes?

Dengan keberhasilan klinis ini, diharapkan akan tiba saatnya bisa meresepkan obat diabetes domestik terbaik di kelasnya untuk pasien domestik sehingga kematian akibat diabetes bisa dicegah.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini