Share

Kenali 3 Jenis Trauma Pernikahan yang Bakal Pengaruhi Perkembangan Anak

Tim Okezone, Okezone · Rabu 26 Januari 2022 15:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 26 612 2538108 kenali-3-jenis-trauma-pernikahan-yang-bakal-pengaruhi-perkembangan-anak-WiSDC8dMpl.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MENGASUH anak memang tidak mudah, meskipun kita sudah mempersiapkan diri dengan membaca berbagai macam literatur atau bahkan mengikuti seminar. Pasalnya, pola pengasuhan anak memang sangat berbeda satu sama lain, sesuai pribadi anak tersebut, lingkungan dan bahkan orangtua.

Psikolog dan konselor pernikahan Dr. Adriana Soekandar Ginanjar, M.Sc., mengatakan belum semua orangtua menerapkan pola asuh yang cukup baik untuk tumbuh kembang si kecil di rumah, di antaranya seperti pola asuh dengan kekerasan, baik itu secara verbal maupun non verbal serta banyak terjadi konflik antar orangtua di depan anak.

"Seringkali hal ini tidak disadari dapat menimbulkan kecemasan dan trauma yang terdalam bagi sang anak," ujar Dr. Adriana sebagaimana dikutip Antara dari siaran resmi Tentang Anak.

Dr. Adriana menjelaskan, terdapat beberapa jenis trauma yang dialami oleh manusia, khususnya ketika berumah tangga. Trauma-trauma ini harus dikenali lebih awal agar kedepannya orangtua dapat memproses trauma menjadi bentuk emosi yang baik. "Ketika dapat memproses emosi, tentunya akan membawa dampak yang lebih baik ke sekitar atau keluarga terdekat," kata Dr. Adriana.

Pernikahan

Setidaknya terdapat tiga jenis trauma dalam berumah tangga yakni trauma akut, trauma kronis dan trauma kompleks. Trauma akut terjadi satu kali tetapi secara intens. Seperti adanya perceraian, bencana alam, pelecehan seksual yang terjadi di masa lampau atau masa kecil.

Trauma kronis terjadi berulang kali dalam jangka waktu yang panjang seperti mendapatkan kekerasan dari orangtua atau orang sekitar, perundungan, melihat kekerasan dan konflik orangtua. Sementara trauma kompleks merupakan kejadian yang beragam terdiri dari kejadian traumatis yang berbeda-beda.

Jika tidak diperbaiki, trauma di masa lampau ini dapat terus menghantui kehidupan sehari-hari para orangtua bahkan dapat berdampak pada pola asuh ke anak saat ini. "Tentu kita sebagai orangtua tidak menginginkan hal yang sama atau hal yang buruk terjadi turun temurun ke anak kita," ujar Dr. Adriana.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang juga mampu melatarbelakangi anak rentan terkena trauma dalam kehidupan, seperti sifat anak yang terlalu tertutup, orangtua yang tidak memahami anak, dan orangtua yang seringkali merasa paling tahu atau paling benar.

Yang dapat dilakukan oleh orangtua agar anak terhindar dari trauma rumah tangga adalah dengan cara mengenal anak lebih baik, terbuka dengan anak agar dapat berkomunikasi dengan orangtua, menghormati anak dengan menghargai keputusan serta tidak menuntut terlalu sering.

Ajarkan juga anak untuk bisa bersuara dan berpendapat di setiap kondisi mulai dari hal-hal kecil yang ditemukan di keseharian. Orangtua juga harus bertindak sebagai detektif atau terus mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan anak. "Mindful parenting untuk mencerna dan mempelajari emosinya agar dapat membuahkan perilaku yang baik juga kepada keluarga," kata Dr. Adriana.

Sementara itu, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, dokter spesialis anak yang juga pendiri dari Tentang Anak mengatakan penting bagi orangtua untuk dapat mengenali dirinya sendiri dan pasangan terlebih dahulu sebelum membantu kebutuhan anak. "Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli agar bisa mendapatkan masukan untuk setiap permasalahan yang ditemukan," ujar Dr. Mesty.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini