Share

Gelombang Omicron Picu Negara Maju Rekrut Perawat dari Negara-Negara Miskin?

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 28 Januari 2022 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 28 612 2539338 gelombang-omicron-picu-negara-maju-rekrut-perawat-dari-negara-negara-miskin-IJhlOD6Y46.jpg Gelombang omicron dorong negara maju rekrut perawat (Foto: NBC Chicago)

DEWAN Perawat Internasional (ICN) mengatakan situasi gelombang infeksi Covid-19 yang dipicu oleh cepatnya penyebaran varian Omicron telah menyebabkan negara-negara maju secara intensif merekrut tenaga perawat dari negara-negara miskin di dunia.

Pengambilan tenaga perawat dari negara-negara yang lebih miskin oleh negara-negara kaya di dunia ini dinilai membuat terjadinya kekurangan parah staf tenaga kesehatan di negara miskin.

 perawat

Howard Catton, CEO Dewan Perawat Internasional yang menaungi 27 juta perawat dan 130 organisasi nasional tersebut menyebutkan, faktor kesakitan, kelelahan, dan absennya staf ketika melonjaknya kasus Omicron telah mendorong tingkat ketidakhadiran ke next level, tingkat yang belum terlihat selama pandemi Covid-19 dua tahun ini.

“Kami benar-benar sudah melihat ada peningkatan perekrutan internasional ke tempat-tempat seperti Inggris, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat,” kata Howard Catton dalam wawancara dengan Reuters, seperti dikutip Ny Post, Jumat (28/1/2022).

Dikatakan lebih lanjut, beberapa rekrutan baru-baru ini ke negara-negara kaya datang dari Afrika sub-Sahara. Mulai dari Nigeria dan sebagian Karibia, Howard mengungkapkan biasanya para perawat sering kali dimotivasi oleh gaji yang jauh lebih tinggi dan persyaratan yang lebih baik daripada di negaranya sendiri.

Mengisi kekosongan staf perawat tersebut, negara-negara Barat mengakalinya dengan mempekerjakan personel militer, sukarelawan dan pensiunan. Tetapi banyak juga yang meningkatkan rekrutmen internasional. Hal ini dinilai sebagai bagian dari tren yang memperburuk kondisi ketidakadilan di bidang kesehatan.

Kondisi kesenjangan tenaga perawat antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin di dunia ini, dikhawatirkan akan menjadi ketidakmerataan yang sama dengan supply APD atau PPE (personal protective equipment) serta vaksin di antara negara maju dan negara miskin.

“Saya benar-benar takut solusi cepat ini, sedikit mirip dengan apa yang telah kita lihat dengan situasi APD (alat pelindung diri) dan vaksin. Di mana negara-negara kaya menggunakan kekuatan ekonomi negara mereka mereka membeli dan menimbun. Jika mereka melakukannya hal yang sama dengan tenaga kerja keperawatan, itu hanya akan membuat ketidakadilan menjadi lebih buruk,” tambah Howard.

Sebagai informasi, berdasarkan data dari ICN, sebelum pandemi Covid-19 saja kekurangan perawat dalam skala global sudah mencapai 6 juta perawat dengan hampir 90 persen dari kekurangan itu di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.

 BACA JUGA:Catat, Ini 17 Platform Telemedicine Gratis bagi Para Pasien Omicron

Laporan ICN juga mengatakan proses perekrutan ini juga biasanya difasilitasi dengan memberikan status imigrasi pilihan kepada para tenaga perawat.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini