Share

Kanker Payudara di Indonesia Masih Menghkawatirkan, Kemenkes Coba Cara Baru untuk Deteksi Dini

Intan Afika, Jurnalis · Rabu 02 Februari 2022 15:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 02 612 2541388 kanker-payudara-di-indonesia-masih-menghkawatirkan-kemenkes-coba-cara-baru-untuk-deteksi-dini-0NCp3IuZhM.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mencatat kanker payudara menjadi satu kasus yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Data Globocan 2020 menunjukan, sekitar 2,3 juta kasus baru dan 680 ribu kematian akibat kanker payudara.

Di Indonesia sendiri, terdapat 65.858 kasus baru kanker payudara dengan kematian lebih dari 22 ribu jiwa. Karenanya, kanker masih menjadi masalah kesehatan terbesar di dunia maupun nasional, setidaknya 10 juta orang meninggal akibat kanker setiap tahunnya dan 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kalau berdasarkan Globocan, diperkirakan jumlah kasus 2020 kita itu kanker payudara, disusul kanker serviks. 65.858 kasus baru kanker payudara dengan kematian lebih dari 22 ribu jiwa. Ini cukup mengkhawatirkan," ujar Elvieda Sariwati, Plt. Direktur P2PTM Kemenkes, dalam Webinar Hari Kanker Sedunia secara virtual, Rabu (2/2/2022).

Kanker Payudara

Kasus kanker payudara ini menjadi paling tinggi dilatarbelakangi banyak hal, di antaranya minimnya edukasi terkait kanker serta stigma masyarakat yang membuat seseorang takut untuk melakukan pemeriksaan. Pasalnya, banyak yang masih menganggap pemeriksaan kanker payudara ini sebagai hal tabu.

"Jadi kurangnya pengetahuan, perasaan takut akan hasil, dan prosedur pemeriksaan yang melibatkan organ sensitif masih dianggap tabu. Nah, stigma seperti ini yang harus dihilangkan di masyarakat," kata Elvieda Sariwati.

Selain kanker payudara, kanker serviks dan kanker paru-paru juga menjadi kasus paling banyak ditemukan di Indonesia. Data menunjukkan, sebanyak 36.633 kasus baru kanker serviks dan 25.943 kasus baru kanker paru-paru ditemukan pada 2020.

Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Kemenkes melakukan beberapa upaya penanggulangan, salah satunya dengan mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi kanker sejak dini.

"Kenapa vaksinasi Covid-19 peminatnya tinggi karena mereka merasa itu suatu kebutuhan, makanya mereka berbondong-bondong. Nah, ini juga yang kita perlukan, bagaimana orang-orang merasa butuh untuk mendeteksi kanker sejak dini," ujar Elvieda Sariwati.

Selain itu, Kemenkes juga akan terus meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terkait penyakit kanker dengan melakukan pemenuhan akses, sistem informasi, serta kegiatan kampanye secara efektif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini