Share

Kenapa Jutaan Orang Indonesia Lebih Memilih Berobat ke Luar Negeri?

Siska Permata Sari, Jurnalis · Senin 07 Februari 2022 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 07 481 2543234 kenapa-jutaan-orang-indonesia-lebih-memilih-berobat-ke-luar-negeri-bedDae0FcR.jpg Jutaan orang Indonesia pilih berobat ke luar negeri (Foto: Medicaldaily)

KESEHATAN adalah sesuatu yang penting dan mahal. Oleh karena itu, tak jarang sebagian orang memilih untuk merawat kesehatannya atau berobat ke luar negeri.

Data tahun 2019 saja menunjukkan bahwa kurang lebih 2 juta orang Indonesia memilih untuk berobat di luar negeri. Angka ini, terbesar di Asia Tenggara dan membuat Indonesia rugi hingga kurang lebih Rp97,5 triliun.

Konsultasi

Hal tersebut diungkapkan Ketua Perhimpunan Rumah Sakit seluruh Indonesia (PERSI) dr Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS. “Devisa yang hilang itu hampir 100 triliun pada 2019. Saya yakin ini bukan hanya persoalan mutu,” ujarnya dalam webinar FNM Society, Minggu (6/2/2022).

BACA JUGA : Kisah Pasien Memilih Berobat ke Penang Karena Cara Dokter Berkomunikasi Bikin Semangat

BACA JUGA : Mereka yang Memilih Berobat ke China karena Kanker dan Lainnya

Dalam kesempatan yang sama, dr Bambang mengungkapkan beberapa alasan lain mengapa masyarakat Indonesia memilih berobat ke rumah sakit di luar negeri. Beberapa negara tetangga yang biasa menjadi pilihan yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Berbagai persoalan barangkali tidak hanya mutu tetapi juga akses, karena beban layanan yang demikian besar kepada rumah sakit-rumah sakit, sehingga antrean yang panjang, menyangkut biaya, dan kepercayaan. Di samping persoalan-persoalan sosial yang lain, memang banyak warga negara kita yang memilih berobat ke negara lain,” ungkapnya.

Meski mutu bukan bukan satu-satunya penyebab, namun itu turut menjadi salah satu faktor yang ke depannya akan terus diperbaiki. “Mutu hanya salah satu saja tetapi juga ada aspek-aspek lain yang perlu dipikirkan. Tetapi mutu menjadi salah satu yang sangat penting,” kata dr Bambang.

Dia juga menjelaskan sejumlah hambatan terkait peningkatan mutu di RSA agar bisa bersaing di tingkat global dan di era JKN seperti sekarang. Mulai dari perubahan regulasi, hirarki dan komunikasi, situasi pandemi, pertumbuhan SDM dan perkembangan kualitas layanan, hingga proses aktreditasi yang vakum.

Dia berharap segala persoalan tersebut bisa segera diperbaiki agar ke depannya rumah sakit di Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri. “Tantangannya sangat besar. Sangat penting untuk melakukan inovasi untuk menghasilkan mutu layanan yang baik. Mudah-mudahan rumah sakit Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini