Share

Mengenal Hidrosefalus pada Bayi, Sudah Bisa Dideteksi dari Kandungan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Okezone · Selasa 08 Februari 2022 18:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 08 612 2544231 mengenal-hidrosefalus-pada-bayi-sudah-bisa-dideteksi-dari-kandungan-m8O2cAhKIY.jpg Ilustrasi Ibu Hamil. (Foto: Shutterstock)

KETIKA seorang calon ibu memiliki bayi dalam perutnya, tentu saja dia harus menjaga kebutuhan gizi serta keselamatan sang bayi. Apalagi, saat ini ada virus Covid-19 yang tengah merajalela.

Tapi, ada juga penyakit yang berbahaya bagi para bayi, yakni hidrosefalus atau adanya air pada otak. Kondisi ini bisa terjadi karena penumpukan cairan serebrospinal (CSF) di dalam atau di sekitar otak.

Jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan peregangan jaringan otak, yang secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Lantas, apa penyebab dari kondisi ini? Merangkum dari SSM Health, hidrosefalus bisa terjadi karena beberapa hal.

Hidrosefalus seringkali bersifat bawaan, artinya bayi dilahirkan dengan penyakit ini, namun tidak menutup kemungkinan bayi dan anak-anak juga dapat mengalaminya. Tidak ada satu pun penyebab spesifik dari hidrosefalus kongenital.

Namun, kondisi ini kemungkinan besar terkait dengan cacat genetik, atau akibat kelainan lain seperti spina bifida atau ensefalokel (tonjolan otak seperti kantung).

Bayi

Hidrosefalus biasanya terdeteksi melalui USG prenatal antara 15 dan 35 minggu kehamilan. Spesialis Kehamilan dapat memastikan diagnosis ini dengan pemeriksaan pencitraan resonansi magnetik janin (MRI), yang memberikan gambar otak yang lebih detail.

Selama kehamilan, hidrosefalus biasanya dikelola dengan observasi. Saat ini, tidak ada pengobatan janin untuk gangguan ini. Jika bayi Anda telah didiagnosis menderita hidrosefalus, maka Anda mungkin mengindikasikan perlunya persalinan dini.

Setelah anak lahir, hidrosefalus dapat diobati dengan salah satu dari tiga pilihan bedah yang tersedia, diantaranya:

Shunt

Alat yang memungkinkan tekanan di otak menjadi normal dengan mengalirkan cairan ke dalam rongga perut, tempat cairan dapat diserap kembali.

Endoscopic third ventriculostomy (ETV)

Ini merupakan prosedur invasif minimal yang menciptakan lubang di dasar ventrikel ketiga di otak, lubang ini memungkinkan cairan mengalir ke jalur normalnya.

Gabungan Endoscopic third ventriculostomy /choroid plexus cauterization (ETV/CPC)

Metode ini digunakan sebagai pengobatan utama untuk sebagian besar bayi dengan hidrosefalus. ETV/CPC diketahui mengurangi laju produksi cairan serebrospinal dan menyediakan jalur baru bagi cairan untuk keluar.

Dampak hidrosefalus pada bayi pun dapat bervariasi, tergantung tingkat keparahannya. Karena penyakit ini melukai otak, anak-anak dengan hidrosefalus mungkin menderita epilepsi, ketidakmampuan belajar, kehilangan ingatan jangka pendek, masalah koordinasi, masalah penglihatan, dan pubertas dini.

Akibatnya, anak-anak dengan kondisi ini sering mendapat terapi perkembangan, seperti terapi fisik dan terapi okupasi. Dalam kasus yang lebih ringan, bayi dengan hidrosefalus dapat berkembang sepenuhnya secara normal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini