Share

Waspada! Kemenkes Prediksi Lonjakan Omicron Terjadi Awal Maret 2022

Novie Fauziah, Jurnalis · Minggu 13 Februari 2022 06:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 13 481 2546416 waspada-kemenkes-prediksi-lonjakan-omicron-terjadi-awal-maret-2022-Gul1SjU3sq.jpg Ilustrasi kasus covid-19 varian omicron. (Foto: Shutterstock)

DIREKTUR Jenderal Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Dirjen Yankes Kemenkes) Profesor dr Abdul Kadir mengimbau masyarakat selalu berhati-hati dan sementara waktu tidak melakukan mobilitas tinggi. Pasalnya, Indonesia diperkirakan kembali mengalami lonjakan kasus covid-19 pada awal Maret 2022 mendatang. Ini terutama karena infeksi varian omicron.

Prof Kadir mengatakan sejumlah kelompok masyarakat, termasuk lanjut usia (lansia), anak-anak, belum divaksin, hingga yang memiliki komorbid, harus lebih waspada. Hal ini dikarenakan mayoritas gejala dari infeksi varian omicron cenderung ringan, tanpa gejala, dan seperti flu biasa.

Baca juga: Kemenkes: Sampel RS Buktikan Vaksinasi Dosis Lengkap Kurangi Risiko Terburuk Covid-19 

Info grafis covid-19 varian omicron. (Foto: Okezone)

"Omicron bisa berbahaya pada lanjut usia (lansia), termasuk orang dengan komorbid, orang yang belum divaksin, dan anak-anak," ujar Prof Kadir dalam konferensi pers virtual, Kamis 10 Februari 2022.

Lebih lanjut ia menjelaskan, khususnya lansia, komorbid, dan pengidap hipertensi agar tetap di rumah saja. Guna mengurangi lonjakan kasus covid-19 yang diprediksi terjadi pada awal Maret 2022.

Baca juga: 5 Rahasia Menko Luhut Tetap Bugar dan Energik di Usia 74 

Sementara Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan puncak kasus omicron yang jauh lebih tinggi dibanding gelombang varian delta kemungkinan terjadi pada akhir bulan ini (Februari 2022).

"Tren terjadi peningkatan angka kasus, prediksi di akhir Februari atau awal Maret 2022 puncak kasus omicron, 3 sampai 6 kali lebih tinggi dibandingkan puncak kasus karena delta," tuturnya.

Kemudian dr Siri Nadia mengingatkan kembali masyarakat yang belum melakukan vaksinasi agar segera melakukannya. Hal ini sebagai pencegahan apabila terinfeksi covid-19 maka gejala yang ditimbulkan relatif ringan.

Ia mengungkapkan vaksinasi covid-19 untuk lansia masih terbilang rendah, yakni 55 persen. Sementara kelompok tersebut termasuk sangat rentan terinfeksi, khususnya varaian omicron, di mana persebarannya dua kali lipat lebih cepat.

Baca juga: Dokter RS UNS Sampaikan Cara Mengenali Penyakit Jantung Bawaan Sejak Dini 

Baca juga: Studi: Vitamin D Terbukti Kurangi Keparahan Gejala Pasien COVID-19 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini