Share

Jaga Lingkungan, Masyarakat Diminta Biasakan Diri Memilah Sampah Plastik Rumah Tangga

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 06 Maret 2022 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 06 612 2557239 jaga-lingkungan-masyarakat-diminta-biasakan-diri-memilah-sampah-plastik-rumah-tangga-OJsY0FaWEd.jpg Pentingnya memilah sampah plastik (Foto: Nikkei Asia)

INDONESIA menghasilkan 93 juta sampah sedotan plastik per tahun. Hal ini diungkapkan Dirjen Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Rosa Vivien Ratnawati. Ia juga meminta masyarakat menghindari pemakaiannya demi mengurangi pencemaran sampah plastik yang kian mengkhawatirkan.

"Sampah sedotan plastik itu kalau disusun bisa mencakup jarak dari Jakarta sampai Meksiko," ujarnya belum lama ini.

 sampah plastik

Vivien menjelaskan, persoalan sampah plastik yang tercecer di lingkungan terbuka seharusnya jadi keprihatinan semua kalangan mengingat dampaknya yang sangat besar pada perubahan iklim di level global. Dia bilang, meski pemerintah telah berupaya keras untuk menekan pencemaran sampah plastik di lingkungan bebas, warga juga dapat berpartisipasi dengan mengadopsi pola pikir baru terkait pengelolaan sampah plastik. Hal ini sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan.

"Kesadaran individu yang paling utama", ujarnya menekankan. "Orang perlu melihat sampah sebagai tanggung jawab pribadi, bukan lagi tanggung jawab Pemerintah Daerah semata."

Menurut Vivien, perubahan pola pikir dan perilaku dalam pengurangan sampah plastik bisa dimulai dari hal-hal kecil, semisal memilah sampah plastik rumah tangga, sedapat mungkin menggunakan kemasan air minum yang awet dan mengurangi pemakaian kantong kresek sekali pakai.

Sementara itu, Direktur Sustainability Development Le Minerale Ronald Atmaja mengatakan, sampah seharusnya bisa menggerakkan ekonomi. Penting membantu pemulung dan lapak di berbagai kota mengumpulkan lebih banyak sampah plastik agar bisa diolah dan dijual kembali untuk memenuhi keperluan industri daur ulang dalam negeri.

"Program kerja sekaligus untuk mendukung target Kementerian Lingkungan Hidup mengurangi impor sampah bekas (scrap) yang saat ini mencapai 50% dari kebutuhan industri daur ulang," katanya.

Menurut Ronald, warga juga perlu didorong untuk membiasakan memilah sampah sejak dari level rumah tangga. "Orang kerap membuang sampah plastik begitu saja, digabungkan dengan sampah rumah tangga lainnya, dimasukkan dalam kemasan plastik yang lain. Akibatnya, sampah plastik yang bernilai ekonomi tinggi ikut tercemar dan pada akhirnya tercecer di lingkungan semisal Tempat Pembuangan Akhir sampah," katanya.

"Ini sejatinya lost opportunity, mengingat sampah plastik tak bisa dikembalikan lagi ke hulu industri untuk pengolahan kembali," tambahnya.

Ketua Asoasiasi Daur Ulang Plastik, Christine Halim menekankan hal serupa. Menurutnya, edukasi warga agar terbiasa memilah sampah plastik bisa sangat membantu menjaga kesinambungan siklus dan ritme industri daur ulang plastik. Ini harus didukung.

Bagi I Made Janur Yasa, pendiri The Plastic XChange, sebuah organisasi nirlaba lingkungan berbasis Bali, kuncinya ada pada pembiasaan warga untuk memilah sampah dari lingkungan terdekat. "Seperti olah raga, pemilihan sampah plastik tak sekadar teori. Perlu praktik berulang, kalau perlu hingga 1.000 kali agar menjadi bagian dari kesadaran banyak orang," ujarnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini