Share

Curhat Pasien Gagal Ginjal Harus Cuci Darah Seumur Hidup: Sering Kepikiran untuk Mati

Tim Okezone, Okezone · Kamis 10 Maret 2022 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 10 612 2559520 curhat-pasien-gagal-ginjal-harus-cuci-darah-seumur-hidup-sering-kepikiran-untuk-mati-phE1AtKEm5.jpg Ilustrasi Cuci Darah. (Foto: Shutterstock)

DARAH tinggi atau hipertensi memang bisa mendatangkan banyak penyakit. Salah satu yang bisa terjadi ketika seseorang memiliki darah tinggi adalah gagal ginjal.

Ketika ginjal sudah tidak lagi berfungsi, maka dapat seperti ketidakseimbangan mineral dan elektrolit serta anemia. Kerusakan ginjal pun tidak dapat disembuhkan, dan kondisi ginjal yang rusak tidak dapat kembali seperti semula. Kala kerusakan memasuki stadium akhir, mereka pun harus menjalani cuci darah seumur hidupnya.

Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Tony Richard Samosir pun berbagi cerita harus menjalani cuci darah, setelah terdiagnosis gagal ginjal stadium akhir saat usianya 26 tahun.

Tony akhirnya mendapatkan donor ginjal sehingga bisa menjalani transplantasi ginjal. Tetapi dia masih ingat pengalamannya sewaktu menjadi pasien yang harus menjalani cuci darah yang menjadi terbatas dalam melakukan kegiatan termasuk bekerja dan bepergian.

Cuci Darah

Dia juga seperti pasien lainnya perlu mengubah pola diet dengan membatasi asupan makanan dan minuman termasuk air putih serta asupan kalsium. Konsumsi air putih dibatasi maksimal 500 ml, sementara untuk makanan, dia disarankan dokter agar berlebihan menyantap hidangan dengan kandungan kalsium.

Belum lagi, pasien perlu mengonsumsi obat seumur hidup. Keharusan menjalani cuci darah setidaknya dua hingga tiga kali dalam sepekan ke rumah sakit juga menguras waktu, tenaga dan biaya.

Walaupun mengalami segala dampak, Tony mengatakan, pasien cuci darah tetap perlu hidup dengan berkualitas. Dalam hal ini, upaya mandiri dari diri sendiri dan keluarga menjadi faktor penting.

Di sisi lain, pasien terkadang bisa merasa dirinya tak berguna, sebentar lagi dijemput ajal sehingga menyerah pada hidupnya. Di sini, mereka perlu membangun kekuatan strategi mengelola stres termasuk saat memulai cuci darah.

Baca Juga: Masyarakat Depok Terbantu BLT BBM

"Kebiasaan dialisis diubah menjadi menyenangkan bukan membebankan. Kami kalau mau berhadapan dengan dialisis yang dipikirkan mati, karena beban pikiran dan pengelolaan stres yang buruk," ujar Tony seperti dilansir dari Antara.

Menurut dia, pasien juga perlu memperkuat hubungan sosial dengan sesama pasien misalnya untuk belajar strategi khusus yang perlu diketahui pasien dialisis. Berpartisipasi dalam kelompok atau komunitas pasien bisa menjadi pilihan.

Bersama komunitas, Tony membangun dukungan positif antar pasien karena sesama umumnya memahami satu sama lain. Dukungan moral antar sesama pasien dapat meningkatkan kepercayaan diri masing-masing dari mereka.

"Pasien merasa sakit, kalau keluhan ke keluarga terdekat responnya kadang kurang enak apalagi kalau keluarga tahunya minum obat. Tetapi ketika kita minum obat itu tidak menyelesaikan masalah," tutur Tony.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini