Share

Delegasi G20 Dijamu Makan Malam ala Bangsawan Keraton Yogyakarta

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 18 Maret 2022 11:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 18 298 2563724 delegasi-g20-dijamu-makan-malam-ala-bangsawan-keraton-yogyakarta-RExyDZj9V8.jpg Ladosan Dhahar Kembul Bujana. (Foto: Setkab)

YOGYAKARTA terpilih sebagai tuan rumah Pertemuan Pertama Kelompok Kerja Pendidikan G20 atau First Meeting of G20 Education Working Group (EdWG) 2022. Tentu saja, terpilihnya Kota Gudeg ini menjadi ajang untuk mempromosikan budaya serta kuliner yang ada di Yogyakarta.

Para tamu dan delegasi G20 EdWG pun disuguhkan jamuan makan malam ala bangsawan Keraton Yogyakarta yang mungkin selama ini tidak diketahui publik. Jamuan makan malam tersebut diberi nama 'Ladosan Dhahar Kembul Bujana'.

Ladosan Dhahar Kembul Bujana adalah sebuah tradisi makan menyerupai tatanan fine dining yang mengadaptasi tradisi makan raja-raja Jawa di masa lampau. Ladosan Dhahar Kembul Bujana berarti jamuan makan bersama dengan pelayanan khusus. Tradisi makan ini melibatkan beberapa orang untuk memberikan layanan khusus pada anggota kerajaan.

Para pramusajinya mengenakan pakaian adat yang identik dengan abdi dalem keraton. Pramusaji perempuan mengenakan kemben dan kain jarik, sedangkan laki-laki mengenakan kemeja peranakan berbahan lurik, kain jarik, dan blangkon.

Jamuan Yogyakarta

Makanan dibawa oleh pramusaji dalam wadah kayu yang dipikul di pundak. Wadah kayu yang dikenal sebagai jodhang ini dibawa seorang punggawa yang berjalan di depan sambil memegang songsong atau payung kuning kerajaan.

Dengan mengadaptasi tradisi Ladosan Dhahar Kembul Bujana, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menjamu para delegasi EdWG G20 dalam acara Welcoming Dinner pada Rabu malam. Tradisi makan malam ini berlangsung di Bale Kambang yang merupakan salah satu rumah peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang kini dijadikan museum.

Prosesi Ladosan Dhahar Kembul Bujana untuk para delegasi EdWG G20 diawali dengan parade oleh tujuh petugas perempuan dan laki-laki yang berjalan kaki dari dapur utama menuju Gadri atau Bale Kambang.

Pembawa Jhodang dipimpin oleh seorang Bekel atau Cucuk Lampah, yang kemudian disusul oleh pembawa tembang di sebelah kiri, bersama empat petugas yang membawa Jhodang, dan terakhir pramusaji perempuan yang bertugas menyajikan hidangan di meja tamu.

Sebelumnya, para delegasi menyaksikan Tarian Srimpi Pandelori yang diiringi musik Gendhing Pandhelori yang mempergunakan gamelan. Tarian tradisional ini biasanya ditampilkan hanya pada acara khusus di Keraton Yogyakarta.

Pilihan makanan dalam set menu Ladosan Dhahar Kembul Bujana dimulai dari makanan pembuka (appetizer) hingga makanan penutup (dessert) yang menjadi menu favorit para Sultan, mulai dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII hingga IX.

Sebanyak 11 menu dihidangkan untuk para delegasi G20, yaitu Bir Jawa, Roti Jok Semur Ayam, Ledre Pisang, Salad Mentimun, Dendeng Age, Sapitan Lidah, Zwaart Zuur (Bebek Asam Hitam), Lombok Kethok Sandung Lamur, Setup Pakis Taji, Nasi Pandan Wangi, dan Rondo Topo dengan Saus Karamel.

Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20 (Chair of G20 Education Working Group), Iwan Syahril mengatakan, melalui tradisi Ladosan Dhahar Kembul Bujana, ia berharap para delegasi bisa mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan selama berada di Yogyakarta. "Kami memperkenalkan budaya dan tradisi berusia ratusan tahun yang diwujudkan dalam bentuk keramahtamahan, tarian, dan masakan,” tuturnya.

Jamuan makan malam untuk delegasi EdWG G20 juga dihadiri oleh Wakil Gubernur DI Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, yang mewakili Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Wagub DIY mengatakan, Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai Kota Pelajar, melainkan juga kerap disebut sebagai 'The Heart of Java'. Ia menuturkan, menyatunya pendidikan dengan budaya, pada akhirnya telah membentuk karakter masyarakat Yogyakarta yang ramah.

"Daerah Istimewa Yogyakarta memang dibangun di atas nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi. Candi Prambanan menjadi saksi betapa nilai toleransi yang dijunjung tinggi antarpemeluk agama sejak peradaban masa lalu," ujar KGPAA Paku Alam X.

Ia mencontohkan kebhinekaan tersebut dengan keberadaan Candi Prambanan yang merupakan candi Hindu, sedangkan Candi Sewu yang letaknya berdekatan merupakan tempat peribadatan umat Buddha.

Beranjak ke zaman yang lebih kontemporer, lanjutnya, kawasan Kota Baru di Kota Yogyakarta menjadi simpul toleransi antara umat Islam dan Katolik, di mana Masjid Syuhada terletak bersebelahan dengan Gereja Katolik Santo Antonius Padua.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini