Share

Viral Desa Satu Ginjal di Afghanistan, Penduduknya Jual Ginjal ke Pasar Gelap

Intan Afika, Okezone · Senin 21 Maret 2022 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 21 612 2565281 viral-desa-satu-ginjal-di-afghanistan-penduduknya-jual-ginjal-ke-pasar-gelap-dQjqhJfoXx.jpg Desa Satu Ginjal. (Foto: AFP)

MANUSIA memiliki ginjal untuk menjaga sistem ekskresinya, 2 ginjal ini adalah karena sistem ginjal manusia memang sudah mencakup dua buah ureter, kandung kemih, serta uretra. Dengan adanya dua ginjal tersebut, maka tugasnya dapat terbagi.

Ginjal memiliki dua bagian, yaitu ginjal kiri dan kanan. Ukurannya sekitar 10-12 cm atau sebesar kepalan tangan. Organ ini mengandung kurang lebih satu juga nefron yang merupakan saringan darah berukuran sangat kecil.

Lantas, apakah manusia bisa hidup dengan satu ginjal saja? Bisa, tapi orang tersebut berisiko mengalami hipertensi, kehilangan protein dalam urine (proteinuria) dan retensi cairan. Meski begitu, ada saja orang yang rela menjual ginjal mereka demi mendapatkan uang meskipun tahu risikonya.

Nah, baru-baru ini viral di media sosial sebuah daerah berjuluk desa satu ginjal di Afghanistan. Desa tersebut adalah Shenshayba Bazaar yang terletak di kota Herat, Afghanistan. Pasalnya, penduduk setempat terpaksa menjual organ tubuh mereka demi bertahan hidup sehari-hari, salah satunya dialami oleh Nooruddin.

Desa 1 Ginjal

Melansir Straits Times, Noorudin mengaku tak punya pilihan selain menjual ginjalnya. Hal serupa juga dilakukan oleh penduduk Afghanistan lainnya, mereka rela mengorbankan organ demi menyelamatkan keluarga mereka. "Saya harus melakukannya demi anak-anak saya. Aku tidak punya pilihan lain," kata Nooruddin kepada AFP.

Praktik ini telah meluas di kota barat Herat, sehingga dijuluki sebagai "one kidney village" atau desa satu ginjal. Para penduduk biasanya menjual salah satu ginjal mereka ke pasar gelap. Dalam prosesnya, sang pendonor hanya perlu membuat persetujuan tertulis kepada dokter, tanpa adanya hukum yang mengatur.

"Tidak ada hukum untuk mengontrol bagaimana organ dapat disumbangkan atau dijual, tetapi persetujuan dari donor diperlukan. Kami menerima persetujuan tertulis dan rekaman video dari mereka, terutama dari donor," kata Profesor Mohammad Wakil Matin, mantan ahli bedah terkemuka di sebuah rumah sakit di kota utara Mazar-i-Sharif.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Profesor mengatakan ada ratusan operasi pengangkatan ginjal yang telah dilakukan di Provinsi Herat dalam beberapa tahun terakhir. Bukan tanpa alasan, saat ini Afghanistan telah jatuh ke dalam krisis keuangan setelah pengambilalihan Taliban enam bulan lalu. Situasi kemanusiaan pun semakin mengerikan setelah beberapa dekade perang.

Nooruddin yang berusia 32 tahun berhenti dari pekerjaan pabriknya saat gajinya dipotong menjadi sekitar USD41 atau Rp588 ribu, dengan harapan bisa menemukan sesuatu yang lebih baik kedepannya. Namun karena merasa putus asa, Nooruddin akhirnya menjual ginjalnya ke pasar gelap.

Selain memberi makan keluarga, Noorudin mengaku menjual ginjalnya seharga USD1500 atau setara dengan Rp21 juta, untuk membayar utang-utangnya. Akibatnya, Noorudin tak bisa lagi bekerja secara normal karena merasa kesakitan.

Kini, keluarga Noorudin hanya bergantung pada putra mereka yang berusia 12 tahun untuk mendapatkan uang. Putranya itu terpaksa bekerja dengan menyemir sepatu seharga 70 sen sehari. "Saya menyesal sekarang. Saya tidak bisa lagi bekerja. Saya kesakitan dan saya tidak bisa mengangkat apapun yang berat," tandas Nooruddin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini