Share

3 Faktor yang Bisa Sebabkan Kerusakan Paru Pada Pasien Covid-19

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 23 Maret 2022 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 481 2566441 3-faktor-yang-bisa-sebabkan-kerusakan-paru-pada-pasien-covid-19-UI3qzklfKe.jpg Ilustrasi Covid-19. (Foto: Shutterstock)

PARA penderita Covid-19 memang tidak hanya harus berhadapan dengan virus Covid-19 ketika mereka terpapar. Banyak dari pasien Covid-19 harus mengalami penyakit lanjutan, bahkan setelah sembuh dari Covid-19.

Dokter spesialis paru dan pernapasan dr. Amira Anwar, Sp.P, FAPSR, dari Ikatan Dokter Indonesia memaparkan tiga aktor yang mempengaruhi risiko kerusakan paru pada pasien pascaCovid-19.

Pertama, tingkat keparahan penyakit. Apakah pasien mengalami gejala ringan, sedang, atau berat ketika terinfeksi Covid-19. Pasien dengan gejala ringan cenderung lebih jarang memiliki cedera/parut yang bertahan lama di jaringan paru.

Kedua, kondisi kesehatan. Apakah pasien memiliki penyakit komorbiditas seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau penyakit jantung yang dapat meningkatkan risiko penyakit bertambah parah. Orang yang berusia lanjut juga lebih rentan mengalami kasus Covid-19 yang parah.

Hal ini terkait dengan jaringan paru yang sudah mengalami penuaan (degeneratif) sehingga kondisinya lebih tidak fleksibel jika dibandingkan dengan jaringan paru pada seseorang yang lebih muda.

Ketiga, tindakan pengobatan. Pemulihan pasien dan kesehatan paru jangka panjang akan bergantung pada jenis perawatan yang mereka dapatkan, dan seberapa cepat pengobatan dilakukan. Pada pasien dengan gejala berat, perawatan yang tepat selama di rumah sakit dapat meminimalkan kerusakan paru-paru.

"Ada 6 kelompok yang rentan terhadap post Covid-19 syndrome, yaitu jenis kelamin perempuan, usia di atas 50 tahun, memiliki lebih dari lima gejala ketika terinfeksi, etnis kulit putih, mempunyai komorbid, dan obesitas," tutur dia seperti dilansir dari Antara.

Biasanya pasien dengan sindrom pernapasan pascaCovid-19 diberi dua jenis terapi, yakni terapi farmakologis lewat obat-obatan yang diberikan sesuai gejala untuk mengurangi batuk dan sesak, juga diberi vitamin. Terapi kedua adalah non-farmakologis seperti rehabilitasi paru, terapi oksigen, psikoterapi, olahraga sesuai kemampuan dan nutrisi.

"Karenanya, pasien sangat disarankan untuk berkonsultasi ke dokter dan melakukan evaluasi pada satu, tiga, dan enam bulan selepas dinyatakan sembuh dari Covid-19," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini