Share

Konvensi Minamata, Menteri LHK Soroti Bahaya Merkuri bagi Kesehatan

Helmi Ade Saputra, Okezone · Rabu 23 Maret 2022 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 612 2566492 konvensi-minamata-menteri-lhk-soroti-bahaya-merkuri-bagi-kesehatan-AQFqLJJcb2.jpg Minimata. (Foto: Shutterstock)

MERKURI merupakan salah satu zat kimia berbahaya yang paling mengancam kesehatan masyarakat di dunia, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Saking berbahayanya, keracunan merkuri telah merenggut ribuan nyawa warga kota Minamata di Jepang pada 1950-an hingga awal 2000-an

Dalam bencana fatal tersebut, lebih dari 2.000 orang juga menderita kecacatan permanen serta gangguan berat yang akhirnya dikenal sebagai penyakit Minamata. Ingin tahu lebih jelas soal penyakit Minamata? Simak ulasan berikut ini.

Penyakit Minamata yang disebabkan oleh keracunan merkuri menyerang otak dan sistem saraf seseorang. Gejalanya antara lain kejang otot, mati rasa pada tangan dan kaki, otot melemah, penglihatan menyempit, serta gangguan pendengaran dan wicara. Dalam kasus yang sudah parah, keracunan merkuri di kota Minamata ini menyebabkan kelumpuhan, gangguan jiwa, koma, hingga kematian. Keracunan merkuri pada ibu hamil juga mengakibatkan kecacatan janin, keguguran, atau bayi lahir mati.

Sebegai langkah pencegahan, muncul kampanye "Make Mercury History," dari Konvensi Minamata tentang Merkuri. Tagline ini berarti, ke depannya senyawa tersebut harus disudahi penggunaannya karena terbukti banyak merugikan lingkungan, termasuk membahayakan kesehatan masyarakat.

Tahun ini Indonesia dipercaya untuk menjadi negara tuan rumah pertemuan para pihak atau Conference of the Parties (COP) yang keempat. Pembukaan COP-4 Konvensi Minamata dilaksanakan di Bali (21/03/2022) yang dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan, isu merkuri ini harus menjadi perhatian global. Masyarakat dan semua pihak harus perhatian dengan bahaya merkuri ini.

"Apa yang kita putuskan dalam beberapa hari mendatang, dan apa yang akan kita lakukan ketika kita kembali ke negara masing-masing setelah pertemuan, sangat penting untuk implementasi Konvensi Minamata," kata Menteri Siti dalam keterangannya.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Menteri Siti kemudian menuturkan, banyaknya negara yang bergabung di Konvensi Minamata akan membawa tantangan tersendiri. Menurutnya, tantangan-tantangan tersebut juga merupakan evaluasi dari konvensi, yaitu seberapa jauh menerapkan dan mengevaluasi apa yang telah disepakati, kemudian bagaimana mengukurnya, serta seberapa efektif evaluasi tersebut.

Upaya untuk mewujudkan "Make Mercury History" telah dilakukan secara global, termasuk di Indonesia. Menteri Siti mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sedang menjalankan kebijakan nasional untuk mencapai Indonesia bebas merkuri pada 2030.

Kebijakan nasional ini berfokus pada empat sektor prioritas, yaitu sektor manufaktur, energi, PESK dan kesehatan. "Termasuk juga penerbitan regulasi teknis di tingkat menteri dan implementasi yang terintegrasi dengan pemerintah daerah," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini