Share

Negara G20 Diminta Kembali Fokus Menanggulangi Tuberkulosis

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 31 Maret 2022 08:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 31 481 2570716 negara-g20-diminta-kembali-fokus-menanggulangi-tuberkulosis-AIiUgJFW54.jpg Penderita tuberkulosis (Foto: Shutterstock)

DALAM side event Health Working Group of Meeting (HWG) I G20, pemerintah menyampaikan komitmennya untuk segera menindaklanjuti hasil dari forum-forum yang membahas soal tantangan dalam program eliminasi Tuberkulosis 2030 mendatang.

“Forum ekonomi G20 ini berperan penting dalam mendorong kerjasama global juga menjawab tantangan di sektor kesehatan global. Seminar pada side event on Tuberculosis (TB) pada HWG I G20 kali ini sangat berarti dalam mendiskusikan tantangan yang dihadapi terkait penanggulangan TB,” kata dr. Kirana Pritasari, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Desentralisasi Kesehatan.

 tuberkulosis

Indonesia, terang dr. Kirana, sebagai tuan rumah telah merangkum keinginan banyak pihak, khususnya negara-negara anggota G20, agar investasi untuk penanggulangan TB ditingkatkan dan bisa dilakukan dalam beragam mekanisme baik, multilateral, bilateral, dan pendanaan domestik.

“Pada pembahasan terkait TB di G20, kita perlu menawarkan dokumen tindak lanjut terkait komitmen negara-negara anggota G20 agar menambah investasi untuk menanggulangi TB,” ujar dr Kirana.

Sementara itu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, agar bisa mencapai target eliminasi TB di 2030 mendatang, investasi pada penanggulangan TB merupakan tantangan yang harus segera teratasi.

"Pentingnya investasi penanggulangan TB ini adalah untuk mengembangkan alat diagnostik TB yang baru, vaksin yang lebih efektif, juga regimen obat TB yang lebih sedikit, berkualitas tinggi, dan terjangkau harganya," ujarnya.

“Pada Global TB report 2021 disebutkan bahwa kebutuhan dana untuk mencegah, mendiagnostik, dan merawat pasien TB di 137 negara berpendapatan menengah ke bawah perlu sedikitnya USD13 miliar. Kendati begitu capaian pendanaan untuk penanggulangan TB sejak 2015-2020 hanya sepertiga dari target tersebut,” ujar Prof. Dr. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI.

Kendati begitu jumlah pendanaan untuk penanggulangan TB di regional Asia Tenggara WHO pada 2021 lalu, baru mencapai USD1 miliar dari target investasi sebesar USD1,39 miliar.

“Sebenarnya target pendanaan USD1,39 miliar ini masih belum menggambarkan secara nyata kebutuhan untuk penanggulangan TB di regional Asia Tenggara WHO. Dibutuhkan estimasi pendanaan sebesar USD3 miliar untuk penanggulangan TB di regional Asia Tenggara WHO,” ujar Prof. Tjandra.

Negara-negara anggota regional Asia Tenggara WHO sebenarnya sudah mendorong Perencanaan Baru untuk pendanaan penanggulangan TB periode 2021-2025. Hanya saja ada intervensi yang membutuhkan prioritas saat ini yakni, pandemi Covid-19 yang mengalihkan fokus komitmen penanggulangan TB.

“Jelas kita harus menjawab tantangan ini dengan target USD3 miliar per tahun untuk penanganan TB di regional Asia Tenggara WHO,” tambah Prof. Tjandra.

Pendanaan ini nantinya akan fokus pada tiga poin yakni, pengembangan vaksin TB yang lebih baik, kedua adalah memperkenalkan serta mengimplementasikan obat dan regimen obat TB yang memiliki efikasi lebih baik. Serta yang ketiga, menyediakan alat diagnostik dengan kemampuan diagnosa yang lebih cepat dan lebih komplit seperti, platform GeneXpert dan genome sequencing.

“Apabila kita tidak investasi untuk penanggulangan TB sekarang, kita akan lebih banyak merugi di masa depan,” pungkas Prof. Tjandra.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini