Share

Ini Perbedaan Anxiety dan Depresi Kata Psikolog

Siska Permata Sari, Jurnalis · Selasa 12 April 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 12 481 2577344 ini-perbedaan-anxiety-dan-depresi-kata-psikolog-vLjjJf7xMd.jpg Podcast Aksi Nyata Perindo (Foto: YouTube Partai Perindo)

PODCAST Aksi Nyata Perindo #DariKamuUntukIndonesia membahas tentang kesehatan mental di generasi anak muda. Dalam tajuk ‘Ini Jurus Kupas Tuntas Hempas Anxiety Buat Gen Z’, Herjuno Syahputra selaku host membahas seputar kesehatan mental bersama psikolog Mazdha Ariefriyendho dan Sabrina L Siswopandoyo.

Salah satu yang dibahas yakni perbedaan antara anxiety dan depresi. Keduanya merupakan gangguan kesehatan mental yang umum dijumpai di kalangan masyarakat, termasuk generasi muda.

Podcast Aksi Nyata Perindo

Mazdha menjelaskan, anxiety dan depresi adalah dua hal yang berbeda namun berkesinambungan. “Simpelnya, kalau anxiety, cemas, itu seperti kita punya kegelisahan, entah itu seperti ada ancaman atau merasa not good enough,” kata dia seperti dikutip dari YouTube Partai Perindo, Senin (11/4/2022).

BACA JUGA : 7 dari 10 Gen Z Rasakan Gejala Depresi Selama Pandemi, Ini Kata Psikolog

Kegelisahan atau cemas tersebut jika didiamkam bisa menjadi kecemasan atau gangguan. “Ini adalah situasi di mana cemasnya itu sudah berlebihan. Bahkan ketika stressornya sudah tidak ada, tapi gejalanya masih dirasakan. Secara emosi ada rasa enggak nyaman, enggak enaknya, dan fisik juga merasakan hal yang sama,” jelas dia.

BACA JUGA : Podcast Aksi Nyata Perindo: Medsos Bisa Picu Stres, Begini Cara Atasinya

Bila kecemasan ini berlanjut, sambung dia, maka tidak menutup kemungkinan akan rentan mengalami depresi. “Kalau sudah depresi, itu sudah menyerang lima aspek dalam kehidupan kita. Secara fisik, entah itu asam lambung naik, kognisi merasa rendah diri, jadi self defeating, dan sebagainya,” ujarnya.

Oleh karena itu, masalah kesehatan mental sekecil apapun tidak boleh disepelekan. “Bukan hanya depresi nantinya, tapi bisa mengalami learn helplessness atau belajar menjadi orang yang pesimis,” kata Mazdha.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini