Share

Mengenal BPA, Zat yang Disintesis Pertama Kali Oleh Ahli Kimia Rusia

Antara, Jurnalis · Rabu 20 April 2022 11:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 20 612 2582047 mengenal-bpa-zat-yang-disintesis-pertama-kali-oleh-ahli-kimia-rusia-tjqXkMD07a.jpg Botol susu bayi seharusnya bebas BPA (Foto: Brifly news)

WUJUD Bisphenol A (BPA) pertama kali disintesis oleh seorang ahli kimia asal Rusia bernama Aleksandr Dianin pada tahun 1891. Waktu itu, awal penggunaannya diperuntukkan guna industri farmasi seperti sejumlah peralatan medis dan lain sebagainya.

Namun kini, kandungannya tak disadari dapat ditemui dengan mudah dan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Secara umum, Bisphenol A lebih banyak dikenal khalayak ramai dengan istilah BPA, yakni senyawa kimia pembentuk plastik polikarbonat.

Polikarbonat adalah sebuah resin sintetis yang kuat, dan keberadaannya menjadi material utama pembuatan berbagai komponen dan benda penting dalam kehidupan sehari-hari. Utamanya, bahan ini yang membentuk wadah atau kemasan untuk berbagai macam makanan dan minuman di masa kini.

Alasan besar yang membuat berbagai pihak begitu gencar meneliti BPA adalah karena keberadaannya yang memiliki dampak buruk bagi tubuh dan kesehatan. Dalam bentuk aktifnya, senyawa BPA memiliki aktivitas hormon estrogen.

Dampak yang paling berbahaya dari aktivitas tersebut, jika masuk ke dalam tubuh BPA dapat meniru hormon estrogen yang penting dalam proses perkawinan. Anggapan itu diperkuat dengan lebih dari seratus literatur ilmiah yang membuktikan jika BPA berisiko memicu kanker dan kondisi kelainan seksual, di antaranya kemandulan.

Ditambah lagi BPA juga merupakan salah satu senyawa endocrine disruptors, yang dapat mengganggu berbagai macam sistem kerja biologi di dalam tubuh, mulai dari biosintesis, sekresi, bahkan metabolisme alami suatu hormon.

Sehingga tak heran, jika BPA diklasifikasikan sebagai senyawa kimia bersifat patogen yang dapat memicu berbagai macam penyakit.

BPA juga terkandung dalam berbagai wadah atau kemasan pangan berupa makanan atau minuman. Di antaranya sebagai pelapis bagian dalam produk kemasan yang terbuat dari logam, misal kaleng dan tutup botol.

 botol susu bayi

Hal tersebut lantaran BPA memiliki kemampuan mencegah terjadinya korosi atau reaksi bahan pengemas dengan pangan yang ada di dalamnya. Ditambah satu hal yang tak boleh terlewat bahkan paling penting, senyawa kimia tersebut juga terkandung dalam botol susu bayi.

Selanjutnya, ancaman BPA menjadi berbahaya ketika kandungannya larut pada berbagai jenis makanan yang kita konsumsi. Bagaimana bisa itu terjadi?

Hal tersebut lantaran lama-kelamaan, senyawa BPA bisa lepas dari rantai polikarbonat bahan kemasan dan luruh menjadi cairan. Pada akhirnya, kandungan BPA tersebut akan mengontaminasi makanan atau minuman yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, Koordinator riset dan teknologi FMCG Insights Muhammad Hasan mendesak kalangan akademisi untuk lebih kritis dan tidak meremehkan potensi bahaya BPA sebagai bahan kimia yang bisa memicu kanker dan kemandulan pada galon keras polikarbonat.

Ia juga meminta agar akademisi menggelar riset membantu BPOM. Dia mencontohkan minimnya riset terkait level peluluhan BPA pada galon guna ulang yang usianya sudah di atas lima tahun namun masih beredar di pasar, atau keamanan galon yang pengangkutannya menggunakan truk terbuka, atau mutu galon yang kerap dicuci dan disikat berulang.

Seiring perkembangan riset dan sains mutakhir, kata Hasan, otoritas keamanan pangan di berbagai negara mengkhawatirkan residu BPA pada kemasan polikarbonat dan efeknya pada kesehatan manusia.

Di Perancis dan Kanada telah melarang peredaran semua kemasan pangan yang mengandung BPA, setelah sebelumnya sebatas melarang penggunaannya pada kemasan botol bayi.

Di Indonesia, BPOM mengharuskan produsen pangan yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat menaati ambang batas migrasi BPA yang ditetapkan sebesar 0,6 mg/kg. BPOM mengecek kepatuhan industri atas aturan yang sifatnya self-regulatory tersebut dengan menggelar audit secara rutin.

Hasil pemantauan BPOM per Februari 2022 menyebut level migrasi BPA pada galon guna ulang yang beredar luas di masyarakat serta menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan baik pada sarana produksi maupun distribusi.

"Ini peringatan pertama dari BPOM setelah dalam rentang enam tahun sebelumnya lembaga menyatakan level migrasi BPA pada galon guna ulang masih di bawah ambang batas berbahaya," ujarnya.

Ia menambahkan BPOM juga telah merancang sebuah kebijakan pelabelan risiko BPA pada galon polikarbonat untuk mengantisipasi apa yang digambarkan oleh pejabat lembaga sebagai masalah-masalah kesehatan publik yang mungkin muncul di masa datang.

 BACA JUGA:Pentingnya Memastikan Keamanan Botol Susu untuk Bayi

Dalam rancangan peraturan BPOM, saat ini memasuki fase pengesahan, produsen galon air minum yang menggunakan galon polikarbonat wajib mulai mencantumkan label "Berpotensi Mengandung BPA" kurun tiga tahun sejak peraturan disahkan. Sementara produsen yang menggunakan kemasan selain polikarbonat diperbolehkan mencantumkan label "Bebas BPA".

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini