Share

Gantikan Sosok Ayah yang Kecelakaan Pesawat, Pria Ini Harus Kelola Bisnis di Usia 10 Tahun

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 25 April 2022 22:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 25 612 2585034 gantikan-sosok-ayah-yang-kecelakaan-pesawat-pria-ini-harus-kelola-bisnis-di-usia-10-tahun-62ZMgkr9Kl.jpg Akbar Himawan Buchari

APA yang ada di benak Anda ketika mengetahui anak usia 10 tahun sudah belajar bisnis? Hal yang mustahil atau sesuatu yang tidak aneh? Ya, Akbar Himawan Buchari kecil bukan sembarang bocah, di usia 10 tahun dia sudah belajar bisnis karena dipaksa keadaan setelah ayahnya meninggal dunia.

Ayah Akbar diketahui jadi salah seorang korban kecelakaan pesawat Garuda Indonesia GA-152 di Desa Buah Nabar, Kabupaten Deli Serdang pada 1997.

Di usia yang masih sangat muda, Akbar dituntut untuk meneruskan usaha ayahnya. Mungkin Anda pernah mendengar Otobus Kurnia, Hotel Swiss Bell In Gajah Mada, dan Hotel Saka Medan? Itu semua bisnis yang dikelola Akbar di masa remajanya.

Bukan hal mudah tentunya, terlebih Akbar harus merelakan masa mudanya untuk gigih belajar bisnis ketimbang bermain dengan teman seusianya. "Mungkin kalau ayah masih hidup, saya sekarang baru lulus S2 dan baru belajar bisnis. Tapi, kenyataannya tidak begitu," cerita Akbar pada MNC Portal.

Setelah ayah meninggal dunia, kata Akbar, sebetulnya bisnis dikendalikan oleh paman, namun ketika masuk SMA pada 2004, dia bergabung ke perusahaan ayahnya dan ikut membantu serta mengembangkan bisnis keluarganya itu.

Akbar

Meski perusahaan tersebut milik keluarganya, tak lantas Akbar menduduki jabatan penting secara instan. Melainkan ia mulai dari menjadi seorang mekanik, lantaran selalu teringat pesan mendiang ayahnya. "Pengusaha transportasi memang harus mengerti mesin. Sebab, itu adalah inti bisnis tersebut," katanya mengingat perkataan sang ayah.

Berkat pengalamannya sejak masih muda, Akbar menjadi peka dalam membaca setiap situasi dan kondisi bisnisnya. Kegigihan pulang sekolah langsung menjalankan peran membantu para mekanik di pangkalan bus berbuah manis.

Menjalani sebuah bisnis, tentu tidak selalu mulus. Ada banyak rintangan serta ujian yang menerpa Akbar dalam menjalani bisnisnya, di antaranya adalah kondisi keamanan Aceh yang sempat kritis karena terjadi konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI. Pada saat itu, perusahaan yang dijalankannya tak luput dari intimidasi sejumlah oknum. Bahkan, banyak bus otobus miliknya yang dibakar.

"Ada sekitar 20 bus yang dibakar. Tapi, sampai sekarang tidak jelas siapa yang membakar. Kami hanya tahu itu ulah oknum-oknum yang tidak jelas," tuturnya. Meski begitu, bus-bus yang masih dalam keadaan baik tetap melayani rute Medan-Banda Aceh.

Tak berhenti sampai di situ. Ketika bencana tsunami menerjang, bisnisnya pun tak luput dari kendala. "Ketika tsunami menghantam Aceh, sekitar 50 bus di pool Banda Aceh terkena dampaknya. Pagar pool juga terseret arus sampai ke jalan raya," ungkap Akbar.

Di tengah kondisi seperti itu, ia harus cerdas ambil kendali dan dia harus mengatur anggaran dengan cermat. Bahkan, membangkitkan semangat para kru bus.

Namun, tsunami justru menjadi semacam 'blessing in disguise' alias berkah tersamar. Sebab, setelah gelombang itu pergi dan kondisi berangsur-angsur normal, bisnisnya semakin terangkat dan mulai normal karena banyak orang yang mengunjungi Aceh.

Diterpa banyak masalah, dia tidak pernah putus asa menjalankan bisnisnya yang mungkin saja suatu ketika akan kembali mengalami kesulitan. Sebab ia sudah kenyang dengan pengalaman dan sudah mempelajari apa saja yang harus dilakukan ketika menemui kesulitan.

"Krisis dan ujian datang silih berganti menerpa usaha yang dijalani tapi tetap bisa dilalui. Kerikil-kerikil tajam itu pun akhirnya membentuk siapa kita hari ini dan menjadi pebisnis tangguh," ucap pria yang saat ini mendapat kesempatan menjabat sebagai wakil ketua umum BPP HIPMI Masa Bakti 2019-2022.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini