Share

Ngantuk saat Mudik, Bolehkah Atasi dengan Minum Kopi?

Kevi Laras, Jurnalis · Sabtu 30 April 2022 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 30 481 2587645 ngantuk-saat-mudik-bolehkah-atasi-dengan-minum-kopi-kjL8xei9YV.jpg Ilustrasi Kopi. (Foto: Shutterstock)

MUDIK tahun ini memang terasa spesial, lantaran pertama kalinya kita diperbolehkan mudik selama pandemi Covid-19. Tidak heran jika antusiasme masyarakat sangat tinggi pada mudik kali ini.

Tidak heran, jika kemacetan terjadi di mana-mana, terutama di jalur mudik. Oleh karena itu, guna menghindari rasa kantuk akibat kemacetan dan menyetir, banyak orang meminum kopi ketika berbuka atau sahur.

Menurut Dr. Muhammad Fajri Adda’I, dokter relawan Covid-19 dan edukator kesehatan, pemudik bisa mengonsumsi kopi dengan tidak berlebihan. Tapi, kopi tidak boleh dikonsumsi ketika seseorang dalam mengantuk maksimal (100 persen).

Kopi

"Boleh dikonsumsi, namun tidak disarankan dengan kondisi tidak mengantuk 100 persen meminum kopi," ujar Dr Fajri kepada MNC Portal, Selasa (26/4/2022)

Menurut penelitian, seperti dilansir dari Mayo Clinic, ada hubungan positif antara konsumsi kopi dan semua penyebab kematian, diamati pada pria dan pada pria dan wanita yang lebih muda dari 55 tahun.

Karenanya, orang yang lebih muda disarankan menghindari konsumsi kopi berat (yaitu, rata-rata >4 cangkir per hari). Namun, temuan ini harus masih belum menjalani studi lanjutan di populasi lain.

Sementara, menurut Studi Minum Kopi Nasional terbaru dari Asosiasi Kopi Nasional, sekira 64% orang dewasa Amerika minum kopi setiap hari, dan diantara peminum kopi, konsumsi kopi rata-rata di Amerika Serikat adalah 3,1 cangkir per hari. Meski demikian, kopi telah lama diduga berkontribusi terhadap berbagai kondisi kesehatan kronis.

Dengan begitu, sangat disarankan tidak lebih dari satu cangkir dalam sehari. Sebab penelitian Mayo Clinic kopi, lama diduga berkontribusi terhadap berbagai kondisi kesehatan kronis yang telah diselidiki dalam kaitannya dengan kondisi seperti obesitas, hipertensi dan penyakit jantung koroner.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini