Share

Apa Perbedaan Thalassemia dan Anemia?

Kevi Laras, Jurnalis · Selasa 10 Mei 2022 13:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 10 481 2591723 apa-perbedaan-thalassemia-dan-anemia-R8UbvpKgJH.jpg Penderita thalassemia butuh tranfusi darah (Foto: Family doctor)

PENYAKIT anemia dan thalassemia merupakan dua penyakit berkaitan dengan darah. Anemia lebih dikenal sebagai penyakit kurang darah merah dan thalassemia, penyakit kelainan darah di dunia yang terapi dengan transfusi darah.

Dokter anak mengungkap, jika anemia bisa diobati dengan makan banyak daging merah dan hati ayam. Namun, kebalikannya bagi penderita thalassemia justru harus menghindari kedua makanan tersebut.

 terkena anemia

"Kalau anemia itu bisa diobati, kalau thalassemia terapinya di dunia masih transfusi darah," ujar Prof. Dr. dr. Pustika Amalia Wahidiyat, Sp.A (K) Spesialis Anak dan Guru Besar Tetap FK UI bidang ilmu kesehatan anak.

"Sehingga kalau anak anemia ya harus makan daging merah dan hati ayam. Sedangkan anak-anak dengan thalassemia berbeda zat besinya mereka banyak (berlebih) justru dia nggak boleh makan makanan seperti itu," tambahnya.

Dokter Pustika menambahkan, bila kedua sakit ini (Anemia dan Thalassemia) tidak bisa disamakan karena anemia merupakan gejala dari kurang darah merah, bisa juga memicu gejala awal dari sakit thalassemia. Sedangkan, thalassemia merupakan penyakit keturunan dari orangtua.

Untuk gejala umum, anemia yaitu pucat, di mana anak yang mengalaminya harus segera dibawa ke dokter. Sementara Thalassemia, pengobatan saat ini hanya bisa melakukan transfusi darah.

"Dia kurang zat besi, bisa jadi karena thalassemia di mana sel darah merahnya rusak, sehingga bisa pecah terus (sel darah). Pendarahan yang terus menerus, jadi anemia jangan disamakan dengan Thalassemia, sebab anemia adalah gejala," jelasnya.

Untuk penderita Thalassemia, dia menyarankan untuk tidak makan daging merah (kebalikannya dari anemia) atau asupan yang tinggi zat besi. Sebab mengingat Thalassemia memiliki dampak terburuk yaitu kerusakan hati, akibat kelebihan zat besi.

 BACA JUGA: Anemia pada Bumil Berisiko Tubuh Bayinya Kecil

"Jadi kalau dalAm satu bulan hanya 30-60 mg (dibutuhkan) dan 2-6 mg yang keluar. Sehingga bila menerima 200mg perbulan akan terjadi kelebihan 170mg besi di dalam tubuh perbulannya. Dampaknya zat besi melekat di bagian organ-organ tubuh, seperti jantung, hati sama kelenjar endokrin," katanya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini