Share

BPOM Amerika Sebut Vaksin Covid-19 Ini Sebabkan Pembekuan Darah, Sudah Masuk RI Belum Ya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 10 Mei 2022 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 10 481 2591797 bpom-amerika-sebut-vaksin-covid-19-ini-sebabkan-pembekuan-darah-sudah-masuk-ri-belum-ya-1oriDXo7hJ.jpg Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

MASALAH pembekuan darah memang menjadi salah satu kekhawatiran efek samping vaksin Covid-19. Salah satu vaksin yang dulu diklaim dapat menyebabkan pembekuan darah adalah vaksin AstraZeneca.

Tapi, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) kembali mengeluarkan peringatan bahwa vaksin lain yakni vaksin Janssen Covid-19 bisa menyebabkan pembekuan darah. Karena ada risiko tersebut, FDA mengimbau agar penggunaan vaksin Janssen tidak untuk umum, melainkan individu tertentu. Sebab, penggunaan vaksin Janssen Covid-19 mengancam jiwa.

"Setelah melakukan analisis terbaru, evaluasi, dan penyelidikan kasus yang dilaporkan, FDA telah menentukan bahwa risiko trombosis dengan sindrom trombositopenia (TTS) atau sindrom pembekuan darah yang langka dan berpotensi mengancam jiwa dalam kombinasi dengan tingkat trombosit darah yang rendah," papar laporan FDA, dikutip MNC Portal, Selasa (10/5/2022).

"Onset gejala muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah pemberian vaksin Janssen Covid-19. Ini menjamin pembatasan penggunaan vaksin yang diizinkan," tambah laporan FDA tersebut.

Meski ada risiko terjadinya TTS pada penerima vaksin Janssen Covid-19, FDA menegaskan bahwa vaksin tersebut tetap bisa diberikan kepada orang-orang tertentu. Sebab, manfaat dari vaksin jauh lebih besar daripada dampak buruknya.

Orang-orang yang masih bisa menerima vaksin Janssen Covid-19 disebutkan di sana seperti individu yang mengalami reaksi anafilaksis setelah menerima vaksin mRNA Covid-19, individu yang memiliki kekhawatiran pribadi dengan vaksin mRNA Covid-19, dan individu yang susah mendapat akses ke vaksin mRNA Covid-19.

"Kami menyadari bahwa vaksin Janssen Covid-19 ini masih berperan dalam respons pandemi baik di Amerika Serikat maupun secara global. Tindakan kami mencerminkan analisis terbaru tentang risiko TTS setelah pemberian vaksin dan membatasi penggunaan vaksin untuk individu tertentu," kata Peter Marks, MD, PhD, Direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologi FDA.

"Pernyataan kami ini juga menunjukkan kuatnya sistem pengawasan keselamatan dan komitmen kami untuk memastikan bahwa sains dan data memandu keputusan yang kami buat ini. Kami telah memantau dengan cermat vaksin Janssen Covid-19 dan kemunculan TTS setelah pemberiannya. Data tersebut kami pakai untuk merevisi izin penggunaan darurat (EUA)," tambah Peter Marks.

Menurut data FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), ada 60 kasus TTS pasca pemberian vaksin Janssen Covid-19 yang dikonfirmasi, sembilan di antaranya kasus fatal.

FDA juga mencatatkan bahwa kasus TTS ini terjadi dalam skala 3,23 per sejuta dosis vaksin yang diberikan. Sementara itu, tingkat kematian TTS akibat vaksin Janssen Covid-19 adalah 0,48 per sejuta dosis vaksin yang diberikan. "Data kasus TTS dan kematian akibat TTS pascavaksinasi dengan vaksin Janssen Covid-19 tidak jauh lebih rendah dari yang dilaporkan sebelumnya," terang FDA.

Selain itu, faktor yang menempatkan seseorang pada risiko TTS setelah pemberian vaksin Janssen Covid-19 sampai saat ini masih belum diketahui. Artinya, belum ada secara pasti siapa saja individu yang berisiko tinggi alami TTS pasca pemberian vaksin Janssen Covid-19.

FDA pun mempertimbangkan bahwa individu dengan TTS dapat memburuk kondisinya dengan cepat, meskipun diagnosis dan pengobatan diterima pasien sesegera mungkin. "TTS dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan jangka panjang dan melemahkan tubuh. TTS memiliki tingkat kematian yang tinggi," tambah FDA.

Sekadar informasi, vaksin Covid-19 Janssen merupakan salah satu vaksin yang menerima izin penggunaan darurat oleh BPOM. Untuk saat ini vaksin Janssen ini diberikan baru kepada kelompok usia 18 tahun ke atas. Vaksin Janssen juga merupakan vaksin Covid-19 pertama dengan dosis tunggal, yang artinya meski mendapat satu dosis tapi dianggap sudah mendapat vaksin lengkap.

Sehingga dalam Surat Edaran Dirjen P2P No. SR.02.06/II/1188/2022 tentang penambahan regimen vaksinasi Covid-19 dosis lanjutan (booster), penerima vaksin Janssen dapat memperoleh vaksinasi booster jenis Moderna.

Bagi masyarakat yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 dengan jenis vaksin Janssen, maka sudah terhitung memperoleh vaksinasi lengkap. Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan vaksinasi booster 3 bulan kemudian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini