Share

Putus Rantai Penyakit Keturunan Thalasemia dengan Deteksi Dini

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 11 Mei 2022 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 11 481 2592102 putus-rantai-penyakit-keturunan-thalasemia-dengan-deteksi-dini-we4vzKcLyj.jpg Deteksi dini cegah thalasemia (Foto: Shutterstock)

THALASEMIA bisa diturunkan dari perkawinan antara dua orang pembawa sifat. Patut diperhatikan, seseorang pembawa sifat Thalasemia secara kasat mata bisa saja terlihat seperti orang sehat pada umumnya alias tak bergejala. Penyakit ini, memang hanya bisa terdeteksi lewat pemeriksaan darah dan analisis hemoglobin.

Pengidap Thalasemia, artinya mengalami kelainan sel darah merah di tubuhnya. Kelainan pada sel darah merah tersebut, bisa mengakibatkan pengidap penyakit ini wajib menjalani transfusi darah di sepanjang hidupnya.

Thalasemia

Secara klinis ada tiga jenis Thalasemia, yakni Thalasemia mayor, Thalasemia intermedia, dan Thalasemia minor/trait/pembawa sifat. Masing-masing jenis memiliki karakternya sendiri.

Pertama untuk Thalasemia mayor, pengidap ya membutuhkan transfusi darah secara rutin seumur hidup (2 sampai 4 minggu sekali). Pasien Thalasemia intermedia membutuhkan transfusi darah, tetapi tidak rutin.

BACA JUGA : Pasangan Ini Gagal Nikah Gara-Gara Thalasemia, Kisahnya Bikin Haru

Sedangkan pasien Thalasemia minor/trait/pembawa sifat secara klinis sehat, hidup seperti orang normal secara fisik dan mental, tidak bergejala dan tidak memerlukan transfusi darah.

Thalasemia sendiri sejatinya bisa dicegah melalui deteksi dini. Salah satu cara untuk mengetahui seorang memiliki Thalasemia atau tidak, yakni melalui pemeriksaan riwayat penyakit keluarga yang anemia atau pasien Thalasemia, pucat, lemas, riwayat transfusi darah berulang, serta pemeriksaan darah hematologi dan Analisa Hb.

BACA JUGA : Cegah Thalasemia pada Calon Anak, Lakukan Ini Sebelum Menikah

Seperti dikatakan dr. Elvieda Sariwati, M.Epid, Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI, deteksi dini ini menjadi upaya memutus rantai Thalasemia.

“Deteksi dini ini bertujuan untuk mengidentifikasi pembawa sifat Thalasemia agar tidak terjadi perkawinan sesama pembawa sifat,” ujar dr. Elvieda, dikutip dari siaran media resmi Kemenkes, Selasa (10/5/2022).

Selain itu, upaya pencegahan dengan melakukan deteksi dini ini juga karena mengingat Thalasemia adalah penyakit yang sampai saat ini belum bisa disembuhkan. 

“Sampai saat ini Thalasemia belum bisa disembuhkan namun dapat dicegah. Kelahiran bayi Thalasemia Mayor bisa dicegah dengan cara menghindari pernikahan antar sesama pembawa sifat, atau mencegah kehamilan pada pasangan pembawa sifat Thalasemia yang dapat diketahui melalui upaya deteksi dini terhadap populasi tertentu,” pungkas kata dr. Elvieda.

Sebagai informasi, menurut data Yayasan Talasemia Indonesia, di Indonesia sendiri terjadi peningkatan kasus talasemia secara terus menerus. Sejak tahun 2012 sebanyak 4.896 kasus hingga bulan Juni Tahun 2021 data penyandang talasemia di Indonesia tercatat hingga sebanyak 10.973 kasus.

Sementara berdasarkan hasil penelitian Eijkman pada tahun 2012, diperkirakan angka kelahiran bayi dengan thalasemia mayor sekitar 20 persen atau 2.500 anak dari jumlah penduduk Indonesia, kurang lebih 240 juta jiwa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini