Share

Masa Awal Pandemi Covid-19, 1 dari 5 Orang Berpikir Mengakhiri Hidup

Kevi Laras, Jurnalis · Senin 16 Mei 2022 13:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 16 481 2594911 masa-awal-pandemi-covid-19-1-dari-5-orang-berpikir-mengakhiri-hidup-hQdS0i0jBX.jpg Mengalami depresi pada masa awal pandemi (Foto: istock)

MASALAH kesehatan jiwa selama pandemi Covid-19, dan mendapatkan perhatian dari negara-negara ASEAN.

Hal tersebut, disampaikan oleh Direktur Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan drg. Vensya Sitohang saat konferensi pers di Bali.

 depresi

Sejalan dengan komitmen global untuk mengatasi masalah kesehatan mental, ASEAN plus Three Leader (Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Korea), mengakui bahwa promosi kesehatan mental diidentifikasi sebagai salah satu prioritas. Kesehatan di bawah agenda pembangunan kesehatan ASEAN pasca 2015.

"Pandemi juga berdampak pada kesehatan mental dan penting untuk mendapatkan perhatian dari negara-negara di ASEAN, maka dalam rangkaian acara 15th ASEAN Health Ministers Meeting ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat ASEAN terhadap kesehatan jiwa,” ujar dr Vensya dalam laman resmi Kemenkes, Senin (16/5/2022).

Psikiater Dr. dr. Hervita Diatri, Sp.KJ (K) menjelaskan kelompok orang yang terpapar gangguan jiwa, itu berbeda-beda dan memiliki penatalaksanaan yang berbeda pula. Angka prevalensinya meningkat 1 sampai 2 kali lipat dibandingkan kondisi sebelum pandemi Covid-19.

"Masalah bunuh diri sebagai contoh, di 5 bulan awal pandemi Covid-19 datang, survei mengatakan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia usia 15 sampai 29 tahun terpikir untuk mengakhiri hidup. Selanjutnya 1 tahun pandemi oleh survei yang berbeda didapatkan data 2 dari 5 orang memikirkan untuk bunuh diri. Sekarang di tahun awal 2022 itu sekitar 1 dari 2 orang yang memikirkan untuk mengakhiri hidup,” kata dr. Hervita.

Sekadar informasi, menurut laporan ilmiah yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret lalu, menjelaskan pada da tahun pertama pandemi Covid-19, prevalensi global kecemasan dan depresi meningkat sebesar 25 persen.

 BACA JUGA: Punya Banyak Teman Baik, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Mental

"Ini adalah peringatan bagi semua negara untuk lebih memperhatikan kesehatan mental dan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mendukung kesehatan mental populasi mereka.” ujar Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO dilansir website WHO, Senin (16/5/2022).

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini