Share

Ketua Satgas IDI: Cacar Monyet Bukan Penyakit Gay

Kevi Laras, Jurnalis · Senin 23 Mei 2022 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 481 2598673 ketua-satgas-idi-cacar-monyet-bukan-penyakit-gay-XVYMbl6UTp.jpg Ilustrasi Cacar. (Foto: Shutterstock)

NEGARA-NEGARA Eropa memang tengah menghadapi kasus cacar monyet atau monkeypox. Cacar monyet awalnya dikenal banyak menginfeksi orang Afrika dan merupakan penyakit karena virus langka yang menular dari hewan ke manusia atau zoonosis.

Namun, beberapa negara non-Afrika seperti Eropa, Inggris, Spanyol, Portugal, Italia, Swedia, Prancis, Jerman, Belgia, Kanada, Australia, hingga Amerika Serikat menunjukkan ada kasus cacar monyet. Ahli pun menduga penghentian vaksin cacar menjadi penyebabnya.

Layaknya penyakit yang sedang ramai dibicarakan, cacar monyet pun tidak lepas dari hoax atau berita yang tidak teruji kebenarnya. Salah satunya adalah isu jika cacar monyet adalah penyakit dari kaum pelangi (LGBT).

Mendengar hal tersebut Prof, Dr. Zubairi Djoerban, SpPD KHOM, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) jika penyakit tersebut bukan dari kaum pelangi, atau gay.

"Bukan penyakit gay," ujar Prof Zubairi dalam Twitter pribadinya @ProfZubairi, Senin (23/5/2022)

Dalam utasnya di Twitter, Prof Zubairi mengatakan jika penyakit cacar monyet sudah tersebar di 12 negara dengan 92 kasus. Dengan tingkat kematian 1 persen dan penderita pulih selama 2-4 pekan lamanya.

"Seberapa bahaya cacar monyet yang telah tersebar di 12 negara dengan 92 kasus: 2-4 pekan lamanya, Tingkat kematian 1%, Kebanyakan pulih dalam 2-4 pekan. Tidak semudah penularan virus SARS-CoV-2, Menyebar melalui lesi, respiratory droplets, dan benda yang terkontaminasi," jelasnya

Melansir dari The Independent wabah cacar monyet ini memiliki "dampak besar" pada layanan kesehatan seksual dan para dokter telah memperingatkan. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) setidaknya ada 20 kasus monkeypox dikonfirmasi di Inggris, dari sekitar 100 kasus yang dikonfirmasi dan diduga di Eropa.

"Ini sudah membebani tenaga kerja dan akan berdampak besar jika staf harus mengisolasi jika mereka berhubungan dekat dengan seseorang yang terinfeksi monkeypox,” kata Dr Claire Dewsnap,konsultan kedokteran genitourinari dan presiden Asosiasi Inggris untuk Kesehatan Seksual dan HIV.

"Saya khawatir tentang dampak potensial pada akses ke kesehatan seksual secara umum,” tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini