Share

Cacar Monyet Serang Eropa, Aplikasi PeduliLindungi Diharapkan Jadi Alat Screening

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 23 Mei 2022 13:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 481 2598728 cacar-monyet-serang-eropa-aplikasi-pedulilindungi-diharapkan-jadi-alat-screening-ACwjbDWmOG.jpg Aplikasi Peduli Lindungi. (Foto: Okezone)

KASUS cacar monyet memang biasanya terjadi di benua Afrika, dan terjadi karena paparan virus langka yang menginfeksi dari hewan ke manusia atau zoonosis. Tapi, belakangan kasus cacar monyet menyerang hingga ke Eropa dan Amerika Serikat.

Bahkan, sebagian besar kasus tidak terkait dengan perjalanan ke Afrika. Artinya, penyebaran cacar monyet yang terjadi sekarang diduga berbeda dengan penularan cacar monyet di Afrika yang selama ini sudah diketahui dalam dunia medis.

Beberpa negara Eropa yang telah menyatakan adanya kasus tersebut seperti Inggris, Spanyol, Portugal, Italia, Swedia, Prancis, Jerman, Belgia, Kanada, Australia, bahkan Amerika Serikat. Ahli menduga, stop vaksin cacar menjadi penyebabnya.

Menurut Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman, potensi cacar monyet masuk ke Indonesia dari negara-negara tersebut sangat besar. Terlebih, Indonesia punya 'direct flight' ke beberapa negara yang melaporkan kasus cacar monyet.

Dicky pun berharap agar aplikasi PeduliLindungi semakin berkembang dengan menyajikan data soal vaksin smallpox. Ini agar memastikan data apakah individu sudah menerima vaksin cacar atau belum.

"Data yang ada sejauh ini mengungkapkan bahwa vaksin smallpox atau vaksin cacar cukup efektif menghalau cacar monyet. Dengan begitu, data vaksin smallpox diperlukan untuk bisa ditambahkan di PeduliLindungi," saran Dicky.

Lalu, saran untuk masyarakat adalah terus menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Kebiasaan yang sudah dibentuk gegara pandemi Covid-19 seharusnya terus dijalankan karena itu bermanfaat untuk semua penyakit menular.

"Pakai masker, jaga jarak, jauhi kerumunan, tidak sharing alat makan atau makanan dan minuman, dan menjauhi orang yang sakit adalah kebiasaan yang sudah terlatih sejak pandemi dan itu harus dipertahankan," kata Dicky.

(mrt)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini