Share

Waspadai Ancaman Aritmia, Penyebab Henti Jantung saat Olahraga

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 27 Mei 2022 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 27 481 2601017 waspadai-ancaman-aritmia-penyebab-henti-jantung-saat-olahraga-JLCyC9uHCc.jpeg Waspadai aritmia penyebab henti jantung saat olahraga (Foto: quikanddirtytips)

APAKAH denyut jantung Anda sering terlampau cepat setelah berolahraga atau sehabis minum kopi? Waspada, mungkin Anda mengalami kondisi yang namanya aritmia atau gangguan irama jantung.

Aritmia yang tak terkontrol berisiko sebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian. Itu kenapa, kita kerap mendengar kabar artis atau atlet meninggal mendadak setelah berolahraga.

Gangguan Irama Jantung

Dijelaskan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi Mayapada Hospital Surabaya dr Rerdin Julario, SpJP(K), aritmia adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan denyut jantung lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan.

Secara normal, kata dr Rerdin, jantung akan berdenyut 60-10 0 kali per menit.

"Ketika tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya dan menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lainnya," terang dr Rerdin dalam keterangan tertulis, Jumat (27/5/2022).

BACA JUGA : Cek Fakta: Antibiotik Disebut Bikin Pasien Covid-19 Sesak dan Gangguan Irama Jantung

Aritmia biasa muncul saat berolahraga, stres, atau setelah terpapar kafein misal sehabis minum kopi atau teh. Aritmia juga bisa terjadi ketika terpapar nikotin atau obat-obatan tertentu.

BACA JUGA : Anak Sering Mengeluh Jantungnya Berdebar Kencang, Jangan Abaikan!

Dokter Rerdin melanjutkan, aritmia bisa muncul karena faktor risiko lain, seperti orang dengan penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hipotiroid atau hipertiroid, penyakit jantung bawaan, atau faktor genetik.

"Aritmia meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke 4 hingga 5 kali lebih besar dibandingkan yang tidak mengalami aritmia," kata dr Rerdin. Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada 2017 bahkan mengungkapkan aritmia jadi penyebab stroke iskemik sebesar 15-20%.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini