Share

Begini Hasil Penelitian Dampak Paparan BPA

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 27 Mei 2022 14:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 27 612 2601263 begini-hasil-penelitian-dampak-paparan-bpa-NDA2P0ePGh.jpg Ilmuwan melakukan penelitian BPA (Foto: Financial times)

BERBAGAI penelitian menunjukkan bahwa paparan Bisphenol A (BPA) menimbulkan perubahan perkembangan otak secara dimorfik.

Salah satunya kajian sains berjudul Dampak Paparan Bishpenol-A pada Brain Development dan Gangguan Perkembangan Mental yang dilakukan oleh Dekan Fakultas Farmasi Unair Surabaya, Prof. Junaedi Khotib.

penelitian 

Prof. Junaedi Khotib mengatakan, kajian tersebut menyatakan bahwa perkembangan dan fisiologi hipotalamus neuroendokrin dan pengendalian keseimbangan energi mengalami gangguan, dan proses learning memori pada hipokampus mengalami penurunan.

Menurut Prof. Junaedi Khotib, adanya BPA akan menimbulkan kerusakan yang kompleks dengan melibatkan jalur hormonal dan epigenetik.

Meski sampai saat ini, kuantitasi gangguan pada model tikus secara invivo belum dapat ditranslasikan ke dalam model dosis-response yang sangat jelas pada manusia. Tetapi ini harus menjadi pemikiran dan peringatan akan adanya gangguan kesehatan yang akan terjadi ketika terdapat pemaparan BPA dan berdampak serius pada kesehatan manusia baik secara fisik maupun mental.

"Potensi dampak merugikan BPA pada diferensiasi dan fungsi otak sangat besar dan kompleks, karena perubahan yang dihasilkan kemudian dapat menyebabkan perubahan organik maupun perilaku organisme," kata Prof. Junaedi Khotib.

Menurut Prof. Junaedi Khotib, fokus penelitian tersebut untuk mengevaluasi dampak BPA terhadap gangguan pembentukan dan maturasi sel syaraf pada otak berdasarkan data invitro, invivo dan epidemiologi.

“Upaya ini berhubungan erat dalam mencegah timbulnya berbagai gangguan syaraf, mental, perilaku dan kualitas generasi Indonesia pada masa depan,” kata Prof. Junaidi Khotib.

Prof. Junaidi Khotib membeberkan beberapa poin kesimpulan penting terkait penelitiannya.

Pertama, paparan BPA pada kultur sel syaraf dan penyangga menghasilkan perubahan dalam aktivitas, proliferasi, deferensiasi serta fisiologi sel syaraf dan penyangga dalam mengekspresikan protein spesifik.

Kedua, paparan BPA secara invivo pada hewan coba pada fase prenatal dan neonatal menimbulkan perubahan diferensiasi, maturasi dan perkembangan sistem persyarafan dalam otak, yang berdampak pada perubahan perilaku dan learning memory hewan coba.

 BACA JUGA: Mengenal BPA, Zat yang Disintesis Pertama Kali Oleh Ahli Kimia Rusia

"Ketiga, paparan BPA berhubungan erat dengan kandungan BPA dalam urin dan marker kerusakan DNA. Hal tersebut berpeluang menimbulkan gangguan tumbuh kembang terutama pada ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder), ASD (Autism Spectrum Disorder) dan gangguan kesehatan mental pada anak-anak,” terang Prof Junaidi Khotib.

Berdasarkan kajian tersebut, Prof. Junaidi Khotib merekomendasikan 4 langkah untuk mencegah paparan dan dampak merugikan pada manusia.

Pertama, edukasi dan peningkatan kesadaran kepada masyarakat terkait dengan kemampuan secara bijak dalam memilih produk makanan atau minuman yang menggunakan kemasan primer yang bebas BPA.

Kedua, pendampingan pada produsen dalam meningkatkan costumer awareness melalui upaya menjaga keamanan produk dari paparan senyawa berbahaya bagi Kesehatan seperti BPA. Pengendalian dan monitoring penggunaan kemasan dapat dilakukan dengan baik.

Ketiga, komitmen dan tanggung jawab produsen dalam menjamin keamanan produk melalui studi pharmacovigilance yang intensif terkait dengan migrasi/pelepasan BPA dari kemasan dan dampak bagi kesehatan.

Keempat, upaya Lembaga Autorisasi dalam perijinan produk makanan dan minuman dengan tidak melakukan pembiaran peluang pemaparan bahan berbahaya BPA melalui pemberian label pada kemasan primer pada makanan dan minuman,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini