Share

Demensia Alzheimer Bisa Jadi Warisan, Yuk Terapkan Hidup Sehat

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 03 Juni 2022 21:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 612 2605306 demensia-alzheimer-bisa-jadi-warisan-yuk-terapkan-hidup-sehat-x4Z1s7bvXg.jpg Ilustrasi Demensia Alzheimer. (Foto: Freepik)

DEMENSIA alzheimer memang lazim terjadi pada mereka yang lanjut usia. Banyak faktor risiko yang terjadi apalagi saat muda, yaitu pola hidup sehat hingga pendekatan spiritual.

Neurolog dan Guru Besar FK UNIKA Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, SpS (K) menjelaskan bahwa pencegahan tersebut harus dilakukan sejak usia muda, karena akan percuma bila dilakukan saat memasuki usia lanjut.

"Penuaan tidak bisa dihentikan, apalagi kalau ada penyakit degeneratif lainnya. Maka penting untuk melakukan pencegahan sejak usia muda," jelas Yuda seperti dilansir dari Antara.

Lebih lanjut Yuda menjelaskan, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas hingga gaya hidup tidak sehat seperti merokok, kurang tidur serta kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga, bisa menjadi pemicu demensia alzheimer.

Demensia

Ketua Dewan Pembina Alzheimer Indonesia (ALZI) Eva Sabdono menjelaskan demensia alzheimer juga bisa terjadi karena adanya faktor genetik. Kendati demikian, risikonya dapat ditekan bila sejak muda orang yang berisiko menerapkan gaya hidup sehat.

"Kemampuan tubuh semakin menua itu tentu semakin menurun, termasuk untuk mencerna dan beraktivitas. Jadi kalau sudah merasa sering pusing karena makan daging berlemak, ya kurangilah itu perbanyak makanan sehat," ujar Eva.

Selain itu, aktivitas fisik seperti olahraga sangat penting dilakukan sejak usia muda sehingga tubuh menjadi bugar dan kondisi otak pun sehat. Namun, begitu memasuki usia lansia, Eva mengingatkan agar tetap mengenali kemampuan tubuh sendiri saat berolahraga. "Jangan terlalu berat juga, karena sendi dan kondisi tubuh tentu sudah tidak sekuat ketika masih muda," jelas Eva.

Yuda kemudian menjelaskan pentingnya pendekatan spiritual sebagai salah satu pencegahan demensia alzheimer. "Ketika memasuki usia lanjut, banyak hal yang terjadi dan tidak jarang hal itu mengganggu psikis seorang lansia," kata Yuda.

Yuda menyebutkan kondisi seperti kehilangan orang terdekat karena meninggal, pensiun sehingga tidak lagi berpenghasilan, harus berbagi kasih dari anak yang sudah menikah, kemudian menerima banyak kabar duka dari teman seangkatan, itu menjadi faktor eksternal atau stressor tersendiri.

"Untuk yang pernah memiliki jabatan hebat saat bekerja, kemudian pensiun, itu bisa memicu post power syndrome. Di sinilah pendekatan spiritual sangat dibutuhkan agar bisa legowo," jelas Yuda.

Sependapat dengan Yuda, Direktur Eksekutif Yayasan ALZI Michael Dirk Roelof Maitimoe menjelaskan pentingnya "healing" atau refreshing yang berfungsi untuk "menyegarkan" otak dan pikiran yang penat sehingga tidak stress.

"Healing itu penting sebetulnya, tidak perlu mahal-mahal atau jauh-jauh, yang penting happy dan menyegarkan pikiran kita kembali," tutup Michael.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini