Share

Fungsinya Turunkan Prevalensi Perokok, Regulasi Tembakau Alternatif Tak Bisa Sama dengan Konvensional

Tim Okezone, Okezone · Senin 20 Juni 2022 20:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 20 612 2614996 fungsinya-turunkan-prevalensi-perokok-regulasi-tembakau-alternatif-tak-bisa-sama-dengan-konvensional-U6QwR7uR6g.jpg Ilustrasi Regulasi Rokok. (Foto: Shutterstock)

PRODUK tembakau alternatif memang memerlukan regulasi yang berbeda dengan produk tembakau konvensional atau rokok. Pasalnya, tujuan dari adanya produk tembakau alternatif adalah demi menurunkan prevalensi perokok Indonesia yang tinggi.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Satria Aji Imawan mengatakan, dalam proses perumusannya, diperlukan riset sebagai dasar pembuatan regulasi. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan regulasi yang transparan dan akuntabel.

“Riset ini idealnya dibuat oleh lembaga kredibel yang dipercaya masyarakat, mengingat pentingnya regulasi produk tembakau alternatif. Transparansi dan akuntabilitas bersifat krusial dalam perumusan riset sebagai basis regulasi,” ujar Satria seperti dilansir dari Antara.

Rokok Elektrik

Menurutnya, regulasi itu penting karena dapat berimplikasi dalam berbagai aspek. “Karena itu adalah dampak yang utama bagi kesehatan dan ekonomi. Itu aspek transparansi,” ujarnya.

Dari sisi akuntabilitas, sebuah regulasi harus dibuat berdasarkan fakta atau hasil riset yang bisa dipercaya dan dilakukan secara metodologis serta tidak problematik. Selain memenuhi kedua elemen tersebut, Satria meneruskan, sebuah regulasi juga harus melibatkan publik dalam proses pembuatannya.

Selain itu, naskah akademik juga dapat dipresentasikan dalam format infografis agar masyarakat mudah memahaminya. “Jadi sebelum didebatkan begitu, publik harus menerima jaring pendapat dari perumus kebijakan yang terlibat dalam pembuatan regulasi ini,” tambahnya.

Baca Juga: Masyarakat Depok Terbantu BLT BBM

Lebih lanjut Satria mengatakan, kehadiran regulasi ini juga harus diimbangi dengan kampanye bersifat persuasif yang disebarkan seluas-luasnya.

Misalnya, kampanye mengenai bahaya merokok yang bisa dimanfaatkan agar perokok dewasa dapat beralih dari rokok secara perlahan. Pasalnya, selain menjadi kebutuhan bagi para konsumen, rokok sudah menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup di kalangan sejumlah masyarakat.

Langkah-langkah tersebut harus dikawal pula dengan survei berkala demi mencapai tujuan menurunkan prevalensi perokok di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat, prevalensi perokok di Indonesia mencapai 28,96 persen pada 2021.

Menurut Satria, langkah-langkah persuasif melalui diseminasi informasi yang benar dan sesuai fakta sebenarnya sudah cukup berhasil di kota-kota besar, perubahan gaya hidup sudah mulai terlihat dengan adanya peralihan konsumsi rokok ke produk tembakau alternatif di kalangan perokok dewasa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini