Share

Filosofi Dodol Betawi, Kuliner Khas Perayaan HUT DKI Jakarta

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2022 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 21 298 2615132 filosofi-dodol-betawi-kuliner-khas-perayaan-hut-dki-jakarta-p5tGBBfkC5.jpg Proses Pembuatan Dodol Betawi (Foto: Dede Kurniawan/MPI)

HUT Ke-495 DKI Jakarta akan dirayakan 22 Juni 2022. Salah satu yang paling khas dalam perayaan ini yaitu dodol Betawi, kuliner khas orang Jakarta itu menjadi bagian dari ikonnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, dodol Betawi memiliki ciri khas yaitu berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa rasa yang lebih sedikit daripada dodol dari daerah lain. Bahan-bahan yang diperlukan terdiri dari ketan putih, ketan hitam dan durian.

Dodol Betawi

(Proses pembuatan dodol Betawi, Foto: Dede Kurniawan/MPI)

Proses pembuatan dodol Betawi sangat rumit. Bahan baku pembuatan yang terdiri dari ketan, gula merah, gula pasir dan santan harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar kayu selama 8 jam.

Selain itu proses pembuatan dodol bermutu yang tinggi, memerlukan waktu lama dan membutuhkan keahlian khusus. Maka tak heran jika Anda menemukan pembuat dodol rata-rata usia mereka sudah sepuh.

Dodol Betawi umumnya dibuat sebagai penganan khusus untuk pesta, bulan Ramadan, Idul Fitri atau Idul Adha. Warga Jakarta atau wisatawan, bisa membeli dodol Betawi ini di sejumlah daerah.

BACA JUGA : Makanan Tradisional Betawi Ramaikan Jakarta Fair 2022, Ada Live Cooking Dodol!

Dodol Betawi

(Dodol khas Betawi, Foto: MPI/Advenia)

Terdapat juga beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya yang masih memproduksi dodol Betawi, terutama di komunitas-komunitas warga Betawi, seperti di Condet, Jakarta Timur, Bogor dan Bekasi. Selain warga Betawi, dodol betawi juga dibuat oleh komunitas Tionghoa.

BACA JUGA : Resmikan Desa Kreatif Condet, Sandiaga Uno Kepincut Dodol Betawi

Sementara itu usul punya usul, dodol sendiri memiliki filosofi yang cukup mendalam lho. Bukan hanya sekadar makanan atau oleh-oleh saja, tapi Anda harus simak sejarahnya.

Selain Betawi daerah lain juga memiliki dodol yang menjadi ciri khasnya, misalnya dodol Garut, dodol Kandangan dari Kalimantan Selatan. Kemudian di Jawa Tengah dan Timur makanan ini disebut jenang.

Jenang memang agak sedikit berbeda, biasanya lebih lembek daripada dodol, lebih basah berminyak, dan umumnya dijual dalam bentuk lempengan atau plastikan. Jenang diiris sesuai permintaan pembeli. Dodol lebih kering (kesat), dipotong dengan ukuran 2 cm×1 cm×3 cm.

Dodol dikenal sebagai salah satu makanan khas Indonesia disebutkan dalam Kakawin Ramayana yang ditulis pada abad ke-9 pada era Kerajaan Medang, tepatnya pada Kakawin Ramayana bagian 17.112 yang berbunyi: "dwadwal anekawarṇa lakĕtan tape paṅisi len" artinya dodol beraneka rupa, ketan, tapai, dan isian lainnya.

Kemudian dalam Prasasti Gemekan 930 M sisi kanan baris 23 - 24 disebutkan "nañjapan, kurawu, kurima, asam, dwadwal, kapwa madulur malariḥ" yang artinya; dan makanan ringan, seperti kurawu, kurima, asam, dodol, Semuanya diberi penerangan dan mendekat.

Nah, dalam proses pembuatan dodol Betawi dibutuhkan waktu lama dan kerjasama tim yang kuat. Untuk itu filosofi dodol bagi masyarakat Betawi adalah kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan. Maka tak heran, masyarakat Betawi menganggap bahwa pembuatan dodol dapat mempererat persaudaraan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini