Share

Banyak Nasi yang Kurang Matang, Kemenkes Pantau Ketat Kualitas Makanan Jamaah Haji

Kevi Laras, Jurnalis · Jum'at 01 Juli 2022 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 01 612 2621850 banyak-nasi-yang-kurang-matang-kemenkes-pantau-ketat-kualitas-makanan-jamaah-haji-DrYpTqZo4q.jpg Ilustrasi Nasi. (Foto: Shutterstock)

MEREKA yang tengah menjalani ibadah haji di Tanah Suci memang harus selalu mencaga kesehatan. Bukan hanya dari cuaca, tapi juga asupan yang mereka makan sehingga bisa memberi energi untuk beraktivitas.

Karenannya, Kementerian Kesehatan pun melakukan pemantauan makanan lewat TelePetugas. Di mana semua petugas kloter melaporkan hasil pemeriksaan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh Jemaah setiap pagi, siang, dan malam.

"Melalui sistem ini, memudahkan petugas melakukan pengawasan makanan bagi Jemaah haji. Makanan yang tidak laik makan, akan langsung diintervensi oleh petugas” kata kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Budi Sylvana, MARS, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Jumat (1/7/2022)

Pelayanan ini menjadi early warning system bagi terjaminnya keamanan makanan bagi 100.051 Jemaah haji di 243 kloter di 40 maktab di Makkah selama operasional haji di Tahun 2022. Tenaga Kesehatan Haji (TKH) kloter akan melakukan input data hasil pemeriksaan, terhadap makanan dikonsumsi oleh Jemaah.

Dalam laporan dashboard tersebut, ada empat indikator dalam penilaian makanan jemaah haji, yaitu nasi atau lauk basi, makanan mentah, makanan berubah warna, dan makanan berubah rasa.

"Laporan yang paling sering ditemui adalah nasi yang kurang matang atau ngletis,” ungkap Ade Mashuri, Tim Sanitasi dan Food Security Daker Makkah

Sehubungan untuk intervensi, petugas lakukan secara bertahap, lanjut dr. Budi. Intervensi awal dilakukan dengan menghubungi TKH untuk melakukan konfirmasi dan memastikan jemaah tidak mengkonsumsi makanan yang tidak laik dikonsumsi.

Selama masa operasional haji, sampai Kamis (30/6) pukul 13.00 WAS, sebanyak 1.616 sampel makanan telah diperiksa dan diinput datanya oleh TKH. Dari sejumlah tersebut, sebanyak 25 sampel yang tidak laik untuk dikonsumsi, dan dilakukan intervensi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini