Share

Di Balik Tren Makanan Organik, Berkah bagi Petani dan Jaga Kelestarian Lingkungan

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 02 Juli 2022 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 02 298 2622374 di-balik-tren-makanan-organik-berkah-bagi-petani-dan-jaga-kelestarian-lingkungan-ccLiOTTr2R.jpg Aliansyah petani tanaman organik (Foto: ist)

ADANYA tren makanan organik sehat membuat beberapa petani sayur dan buah konsisten menanam tanpa kimia. Salah satunya Aliansyah, yang tergabung dalam program Sekolah Tani Agroekologi (STA).

Aliansyah petani yang sudah menikmati keuntungan dari hasil panen pertanian organik yang dipraktikkan. Ia bertani di kebunnya yang berlokasi di Desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur.

Setiap hari Aliansyah menanam banyak jenis sayur dan buah. Mulai dari bercocok tanam jeruk, kacang panjang, cabai dan beberapa jenis sayuran lain.

Petani Tanaman Organik

Aliansyah mengungkapkan pengalamannya saat mulai menanam sayur dan buah organi. Ia merasa untung karena tidak banyak step saat menanam dan membedakan pengalaman saat bercocok tanam biasa.

“Sebelum 2020, saya bercocok tanam secara non-organik, dan hasil yang saya dapat jauh di bawah harapan.

BACA JUGA : Lebih Sehat dengan Makanan Organik di Tengah Pandemi

Ia menyebut, selama belum beralih menjadi petani sayur dan buah organik, ia sering mendapati kondisi tanah yang rusak akibat bahan kimia yang dipakai terus.

"Ini menyebabkan modal yang harus saya keluarkan untuk perawatan mencapai lebih dari dua kali lipat dari hasil panen waktu itu."

"Saat saya hampir menyerah, saya  diperkenalkan STA dan mengikuti temu lapangan di Desa Kelampan. Di sana, saya melihat sendiri hasil dari para petani  yang sudah menerapkan praktek pertanian tanpa bakar dan tanpa kimia, dengan  panen yang sangat memuaskan.

BACA JUGA : 5 Prinsip Dasar Pertanian Organik, Jangan Salah Pilih Pupuk

Ia merasa sangat puas. Satu hal yang membawa berkah baginya yaitu pernah  panen 1 ton jeruk selama 3 bulan. Wow!

"Saya bisa memanen 1 ton jeruk. Kini, kebun jeruk saya selalu berbuah sepanjang tahun, tanpa henti, dan tidak mengenal musim," tambahnya gembira.

Nah, selama bertani organik, Aliansyah benar-benar bisa melakukan perawatan yang baik. Ia bisa mengembalikan kondisi tanah dan tanaman yang sudah rusak akibat bahan kimia yang digunakan sebelumnya.

"Serta harus lebih tekun memotong rumput, karena dalam teknik ini tidak digunakan bahan kimia apapun selama proses penanaman. Rumput yang dipotong itu kemudian menjadi pupuk organik yang baik bagi kesuburan tanah," tambahnya.

Senada, General Field Manager RMU Taryono Darusman mengatakan, di Kalimantan sangat rentan dengan perubahan iklim. Terutama di lahan gambut yang sangat rentan dengan bencana.

“Ekosistem hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang memiliki cadangan karbon tertinggi di dunia, dan sangat penting dijaga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global," bebernya.

Taryono menambahkan, masyarakat yang bermukim di sekitar area hutan gambut berperan utama dalam menjaga kelestarian hutan. Juga upaya konservasi seperti apapun tidak akan efektif tanpa peran serta mereka

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini