Share

Jumlah Dokter Gigi Indonesia Hanya 43 Ribu, PDGI Minta Lulusan Diperbanyak

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 04 Juli 2022 05:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 03 612 2622885 jumlah-dokter-gigi-indonesia-hanya-43-ribu-pdgi-minta-lulusan-diperbanyak-sqr8NM29ts.jpg Ilustrasi Dokter Gigi. (Foto: Shutterstock)

KONDISI persebaran dokter gigi di Indonesia memang masih jauh dari kata ideal. Pasalnya, rekomendasi WHO idealnya satu dokter gigi melayani 7.500 pasien tapi di Indonesia, satu dokter gigi melayani sekira 12.000 lebih pasien atau 1:12.000.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Usman Sumantri, M.Sc. mengatakan bahwa jumlah dokter gigi di Indonesia saat ini masih kurang atau belum ideal. Menurutnya, saat ini jumlah dokter gigi di Indonesia mencapai 43 ribuan, termasuk dokter gigi umum dan spesialis.

"Yang spesialis itu 3.900 sekian. Jadi memang sangat sangat kurang. Karena itu saya usul jumlah dokter giginya diperbanyak, jumlah lulusan dan jumlah penerimaan (mahasiswa),” kata Usman seperti dilansir dari Antara.

Dokter Gigi

“Jumlah lulusan itu 2.500-an per tahun dari semua Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Persoalannya, produksinya tidak banyak, 2.500 sampai 3.000 (lulusan) itu tidak cukup. Bahkan dokter umum itu sekitar 12.000 (lulusan) setahun,” kata Usman.

Permasalahan lainnya, Usman mengatakan bahwa keberadaan dokter gigi, terutama dokter gigi spesialis, masih terpusat di daerah perkotaan dan tidak menjangkau ke daerah-daerah terpencil. Persebaran instansi pendidikan dokter gigi juga belum merata di Indonesia.

Mengingat permasalahan tersebut, ia mengatakan pihaknya ingin mendorong pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk memperbanyak program studi kedokteran gigi dan memperbanyak studi yang melahirkan dokter gigi spesialis.

“Itu (dokter gigi spesialis) masalah sekali karena terkait dengan sistem rujukan. Pasien dilayani di klinik atau puskesmas, nanti dia bisa ke rujukan. Nah, kalau di rujukan itu tidak ada spesialis kan percuma juga, ada biaya tapi tidak ada spesialis,” katanya.

Usman memandang bahwa persoalan mengenai persebaran dokter gigi yang belum merata tersebut membuat masyarakat kesulitan untuk mengakses layanan perawatan dokter gigi secara rutin.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan sebanyak 57 persen masyarakat Indonesia mengalami permasalahan gigi dan mulut, namun hanya 10,2 persen yang berkunjung ke dokter gigi untuk memeriksakan diri.

Selain persebaran, Usman juga berpendapat bahwa anggapan biaya perawatan gigi yang mahal serta ketakutan tersendiri terhadap dokter juga menjadi faktor lain yang mendorong masyarakat masih enggan untuk memeriksakan diri ke dokter gigi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini