Share

Hati-Hati, Jerawat Bisa Sebabkan Depresi hingga Ingin Bunuh Diri Loh

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 15 Juli 2022 10:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 14 611 2629573 hati-hati-jerawat-bisa-sebabkan-depresi-hingga-ingin-bunu-diri-loh-YFmTLqBcEl.jpg Ilustrasi Jerawat. (Foto: Shutterstock)

JERAWAT menjadi salah satu penyakit kulit yang paling sering terjadi, apalagi mereka yang masih mengalami puber. Jerawat biasanya terjadi karena kotoran yang ada di wajah tidak dibersihkan secara menyeluruh.

Selain itu, jerawat juga bisa disebabkan oleh perubahan hormon dalam tubuh. Meskipun tidak menyebabkan penyakit serius, tapi jerawat bisa menurunkan kepercayaan diri seseorang.

Kondisi masalah kulit seperti jerawat dapat mempengaruhi kualitas hidup pada seseorang yang mengalaminya, mulai dari timbul rasa malu, tidak percaya diri, hingga depresi, demikian Dermato Venereologist dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, FAADV.

“Sebetulnya banyak sekali penelitiannya yang sudah terpublikasi, terutama lebih ke arah jerawat pada remaja. Yang pertama biasanya mulai dari rasa malu. Kedua, setelah malu, dia mengurung diri tidak mau ketemu sama orang," kata dia seperti dilansir dari Antara.

Jerawat

"Ketiga akhirnya mulai dari depresi ringan, depresi sedang, hingga depresi berat, sampai ada yang menyebabkan usaha untuk bunuh diri,” tambahnya.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology pada 2017 menunjukkan bahwa 96 persen responden yang memiliki permasalahan jerawat mengakui hal ini mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

Selain itu, studi di jurnal Acta Dermato-Venereologica pada 2020 menyebutkan bahwa 53 persen responden pernah mengalami depresi dan 50 persen cenderung mengisolasi diri. Bahkan berdasarkan pengalaman Fitria, ia pernah menangani pasien yang mengalami rasa panik luar biasa ketika bercermin dan mendapati satu jerawat mulai muncul.

Mengingat dampak psikososial tersebut, Fitria mengatakan saat menangani pasien pihaknya akan mengajukan sejumlah pertanyaan atau kuisioner yang sudah menjadi standar bagi dermatolog terkait penanganan masalah jerawat. Hasil akhir kuisioner tersebut akan berupa skor yang bisa mengindikasikan tingkat dampak psikososial terhadap pasien.

“Kalau misalnya membaik, oke. Tapi kalau ternyata memburuk, anjuran saya ini kan dikembalikan lagi pada dokter yang menangani, kalau saya biasanya akan bilang ke pasien, ‘Perlu, deh, sepertinya konsultasi ke psikolog, supaya jerawatnya tidak menjadi lebih buruk',” terangnya.

Mengingat jerawat dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, Fitria menegaskan pentingnya untuk melakukan penanganan yang tepat seberapa pun tingkat keparahannya dan jangan menganggap sepele permasalahan jerawat. “Meskipun terbilang masalah kulit paling umum, seringkali jerawat ditangani dengan kurang tepat padahal dapat mempengaruhi kualitas hidup orang yang mengalaminya,” ujarnya.

Fitria mengatakan langkah awal yang paling penting yaitu mendapatkan analisa atau diagnosis kondisi kulit berjerawat dengan akurat dan tepat sehingga dapat ditentukan tingkat keparahan dan terapi yang paling sesuai.

“Selain itu, dengan mengobati jerawat sedini mungkin diiringi terapi yang tepat, tentunya dapat menurunkan risiko terjadinya acne scar (jaringan parut bekas jerawat),” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini