Share

Fenomena Viralnya Citayam Fashion Week, Ini Kata Pakar Sosiologi

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 20 Juli 2022 19:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 20 194 2633091 fenomena-viralnya-citayam-fashion-week-ini-kata-pakar-sosiologi-b1zeZrCsAg.JPG Citayam Fashion Week, (Foto: MPI/Novie)

FENOMENA Citayam Fashion Week yang tengah viral beberapa waktu belakangan ini, menarik perhatian masyarakat di Indonesia.

Ya, para remaja 'SCBD' (Sudirman, Citayam, Bekasi dan Depok) tersebut datang dengan beragam tampilan gaya outfit masing-masing, berpakaian dan melakukan fesyen show sarana zebra cross di kawasan Dukuh Atas, Jakarta sebagai panggun runway untuk catwalk.

Begitu viral di berbagai linimasa sosial media, bahkan ramai didatangi para selebriti dan model terkenal, salah satunya Paula Verhoeven.

Bahkan kepopuleran Citayam Fashion Week membuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak Wakil Presiden Bank Investasi Eropa, Kris Peeters untuk merasakan atmosfer fashion show ala Citayam Fashion Week. Belum cukup sampai situ, gaung Citayam Fashion Week juga sudah diulas media internasional seperti Tokyo Fashion.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari menyebutkan fenomena sosial yang menuai pro dan kontra tersebut, ia pribadi pandang sebagai salah satu wadah anak muda mengekspresikan diri dengan cara yang positif.

“Saya melihat bahwa keberadaan Citayam Fashion Week ini, merupakan sarana para anak muda untuk mengungkapkan diri mereka secara jujur melalui sebuah fashion,” ungkap Luluk, kepada MNC Portal pada Rabu (20/7/2022).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Selain perkembangan tren fashion, Luluk menjelaskan bahwa perkembangan sosial media terutama Tiktok berperan besar dalam keberadaan tren ini.

Para remaja di Citayam Fashion Week ini memanfaatkan sosial media untuk menjadi terkenal dan mendapatkan uang. Hal ini juga melahirkan banyak seleb Instagram dan seleb TikTok seperti Jeje, Bonge, Kurma, Roy,dan lainnya.

“Masifnya keberadaan sosial media mempengarui cara para remaja untuk berkreasi dan Citayam Fahion Week menjadi wadah baru untuk mereka. Selain itu, dengan munculnya komunitas ini juga menjadi sebuah wacana baru bahwa fashion yang selama ini identik dengan kalangan atas, juga bisa dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah,” imbuhnya.

Meski menuai kontra dari sebagian masyarakat, karena dinilai fenomena ini mengganggu dan membuat kumuh kawasan Sudirman yang terkenal dengan imej elit dan sebagai pusat bisnis serta pemerintahan.

Luluk memandang tren seperti ini sebetulnya adalah hal yang positif, namun tetap harus ada upaya pengurangan dampak negatif dari berbagai pihak terutama pemerintah.

“Secara keseluruhan saya memandang bahwa tren ini sebagai hal yang positif, harapannya bisa jadi komunitas yang dikenal positif tidak hanya di Indonesia tapi juga Internasional. Hal-hal yang bisa di lakukan adalah dengan mengedukasi, mengarahkan, dan pendampingan kepada para remaja agar komunitas ini tetap berlangsung namun dengan minim dampak buruk,” tutup Luluk.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini