Share

Anak Mau Jadi Gamers e-Sport? Begini Loh Cara Orangtua Mendukungnya

Tim Okezone, Okezone · Senin 25 Juli 2022 16:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 25 612 2635918 anak-mau-jadi-gamers-e-sport-begini-loh-cara-orangtua-mendukungnya-Jh8vTg76Kl.jpg Ilustrasi Anak Jadi Gamers. (Foto: Shutterstock)

PERKEMBANGAN dunia e-sport memang membuat banyak anak-anak terpacu untuk menjadi atlet e-sport. Lantas, kenapa anak-anak lebih mudah dalam dunia e-sport? Hal ini pun dipengaruhi oleh refleks seseorang yang masih sangat baik jika masih muda.

Menjadi gamers e-sport pun tidak dipungkiri mendatangkan pundi-pundi cuan yang tidak sedikit. Meskipun tidak menjadi atlet, anak-anak bisa menjadi content creator dengan cara memainkan game.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika orangtua mendukung keinginan sang anak. Psikolog anak, remaja dan keluarga Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd mengatakan orangtua tetap bisa memberi dukungan jika anak memiliki minat menjadi gamer, dengan cara membuka akses ke komunitas atau profesional yang memahami bidang tersebut.

“Tunjukkan dengan narasumber yang memang berkecimpung di bidang itu. Jadi, dia tahu plus-minusnya, biarkan anak nanti menimbang sendiri,” kata psikolog yang mendapatkan gelar Magister Psikologi Klinis di Universitas Indonesia itu seperti dilansir dari Antara.

Anak Jadi Gamers

Dengan mengakses ke sumber yang valid, maka anak bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang dunia esport secara menyeluruh dan dampaknya dari berbagai sisi sehingga mencegah kemungkinan terjadinya kecanduan. Namun, Rosdiana juga menganjurkan agar orang tua tetap mendorong anak untuk mengeksplorasi bidang-bidang lainnya di samping bidang esport.

“Tidak apa-apa misalnya ingin masuk ke grup gamers, tapi coba kita eksplorasi yang lain-lain juga. Soalnya zaman sekarang kayaknya orang enggak bisa cuma punya satu set of skill ya,” ujarnya.

Kecanduan menjadi salah satu dampak yang membuat orang tua khawatir jika anak gemar memainkan game di ponsel atau gawai mereka. Apalagi, kata Rosdiana, kondisi pandemi selama dua tahun terakhir memang kurang menguntungkan mengingat perbanyak melakukan kegiatan di luar rumah merupakan cara paling mudah untuk cegah anak kecanduan game.

“Memang lebih menantang di masa pandemi ini. Mungkin kalau sekarang sudah mulai lumayan. Cuma kan sudah dua tahun ya, memang menantang banget karena anak-anak di rumah, belajarnya juga online, terpaparnya (gadget) kan memang besar,” kata Rosdiana.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Ketika sudah kecanduan, biasanya anak menjadi lebih sulit untuk fokus dan terdapat perubahan suasana hati yang kentara (mood swing) apabila tidak menggenggam gawai. Adiksi terhadap game, terang Rosdiana, salah satunya juga bisa membawa dampak pada perilaku lebih agresif atau lebih murung, bahkan nilai atau prestasi pelajaran di sekolah mulai mengalami penurunan.

Jika candu gawai sudah menunjukkan gejala yang akut, Rosdiana menganjurkan agar orang tua membawa anak ke psikolog atau profesional untuk menjalani terapi khusus.

Selain itu, apabila anak menunjukkan gejala ringan, Rosdiana juga menyarankan agar orang tua secara perlahan-lahan mendorong anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik dan mental lain yang mereka gemari, misalnya berolahraga di luar ruangan, sehingga ketergantungan pada gawai akan berkurang.

“Orang tua harus bisa lebih sabar untuk membalikkan anak ke kegiatannya, menemani anaknya dulu mungkin misalnya dia olahraga, melukis, atau apa pun supaya dia nyaman. Kenalkan juga ke teman-temannya yang mungkin sudah lama nggak ketemu (karena pandemi). Kalau remaja, dibuat suasananya jadi lebih menyenangkan dan nggak banyak tuntutan dulu,” kata Rosdiana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini