Share

Mengurai Benang Kusut Nasib Anak Bantar Gebang, Nikah Muda demi Melanjutkan Hidup

Muhammad Sukardi, Okezone · Rabu 03 Agustus 2022 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 03 612 2641238 mengurai-benang-kusut-nasib-anak-bantar-gebang-nikah-muda-demi-melanjutkan-hidup-zIYEgoDTHk.jpg Anak-Anak di Bantar Gebang. (Foto: Instagram/Sanngar Anak Kita)

SETIAP anak memang harus diberikan kesempatan untuk meraih mimpi mereka dengan mengenyam pendidikan yang layak. Tapi, tidak semua anak-anak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak, meskipun mereka berada di kota besar seperti Jakarta.

Contoh saja nasib anak Bantar Gebang yang dipaksa untuk menanggalkan sekolah dan disuruh menjadi pemulung. Tapi, meski terkesan amat kelam hidup anak Bantar Gebang, tapi tetap ada asa di sana. Terlebih saat ini ada beberapa sekolah non-formal yang didirikan di kawasan Bantar Gebang untuk memfasilitasi anak-anak itu menggapai mimpinya. Ya, setidaknya tahu bahwa hidup bukan hanya soal sampah dan sampah saja.

Ketua Sanggar Anak Kita Bantar Gebang, Yoki, bercerita pada MNC Portal bahwa hingga saat ini masalah yang dihadapi anak Bantar Gebang tak jauh berbeda dari 10 tahun lalu. Di kawasan Tempat Pembuangan Akhir Sampah Terpadu (TPAST) itu, anak-anak menghadapi masalah hidup yang runyam.

Mereka bukan hanya dihadapi masalah kesehatan fisik, seperti rentan diare bahkan DBD, tapi juga masa depan yang terpasung akibat multifaktor, salah satunya kemiskinan. Hak mendapatkan pendidikan yang layak pun masih belum dipahami betul di kalangan orangtua di Bantar Gebang.

SAKA, nama populer untuk Sanggar Anak Kita, hadir di tengah anak-anak Bantar Gebang dengan harapan memberi asa dan semangat hidup. Tak hanya itu, SAKA yang sudah hadir di Bantar Gebang sejak 2000 juga mencoba menjadi pintu dan jendela bagi anak-anak Bantar Gebang melihat dunia lebih luas, dengan ilmu dan pengetahuan tentu saja.

Sanggar Kita

Tapi sayang sungguh disayang, banyak orangtua di Bantar Gebang mengabaikan hak-hak utama anak seperti hak hidup, pendidikan, perlindungan, dan partisipasi. Padahal, Yoki cukup yakin bahwa hak utama yang tercukupi akan sangat memengaruhi proses tumbuh kembang si anak.

"Tantangan besar bagi kami untuk mengubah pola pikir setiap orang dewasa di Bantar Gebang bahwa anak-anak punya hak yang perlu terpenuhi demi masa depan yang lebih baik," kata Yoki melalui pesan singkat, beberapa hari lalu.

Ia pun menyoroti soal pendidikan yang hingga sekarang belum begitu jadi prioritas para orangtua. Yoki menjelaskan, sedikit sekali orangtua yang menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMA atau SMK. Kembali, kemiskinan menjadi alasan utamanya. Para orangtua tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan anak-anak mereka ke bangku sekolah lebih tinggi.

Putus sekolah jadi pilihan yang biasa didengar di masyarakat Bantar Gebang. Anak-anak harus mengubur masa depannya karena ekonomi yang seret. Namun, tubuh tetap butuh makan, alhasil banyak orangtua menyuruh anaknya memulung.

Lingkaran setan itu terus berputar di era modern seperti sekarang. Orangtua miskin melahirkan anak, tapi tidak bisa menjamin kesejahteraan hidup si anak. Alhasil, saat si anak dirasa cukup daya dan tenaga untuk hidup mandiri, perintah memulung terucap, daripada meminta si anak berangkat ke sekolah.

Sanggar Kita

Karena masalah putus sekolah ini, Yoki menerangkan, banyak anak-anak Bantar Gebang terpaksa menikah muda. Ya, mereka menikah di usia remaja dengan harapan tidak menjadi beban orangtua dan hidup mandiri.

"Tidak ada yang menguntungkan untuk masa depan si anak, bukan? Tapi begitulah realitanya di Bantar Gebang. Banyak anak remaja menikah, padahal mereka pun tidak dibekali edukasi pernikahan yang mumpuni. Apalagi perencanaan yang matang," papar Yoki.

Apakah menikah menyelesaikan masalah hidup? Kita tahu bersama jawabannya tidak. Tapi, bagi sebagian orang itu pilihan yang harus diambil demi melanjutkan hidup. Karena tidak ada bekal yang mumpuni, beberapa dari mereka bertahan hidup dengan penuh kesengsaraan dan ada juga yang bercerai setelah melahirkan. Sungguh pelik, bukan, hidup anak-anak Bantar Gebang ini?

"Sungguh disayangkan, siklus seperti ini masih terus berjalan hingga sekarang. Padahal, kami dari tim SAKA sangat yakin bahwa anak-anak adalah manusia yang perlu dimanusiakan juga. Mereka harus diberi ruang selebar-lebarnya untuk berkembang dan bermimpi," terang Yoki.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Oleh karena itu, Yoki, melihat keluarga pemulung Bantar Gebang juga manusia berharga yang berhak mendapat hak-hak dasar yang sama dengan anak lainnya. Anak-anak Bantar Gebang pun punya hak untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, menghargai sesama, dan bertanggung jawab.

"Harapan kami dengan hadirnya SAKA dan seluruh masyarakat yang mendukung gerakan positif ini adalah anak-anak menjadi lebih berani menentukan pilihan terbaik dalam hidupnya, berani menyuarakan mimpi-mimpinya, serta mau memperjuangkan mimpinya tersebut," papar Yoki.

Namun, Yoki mengatakan bahwa SAKA punya beberapa kendala dalam memfasilitasi anak-anak Bantar Gebang ini meraih mimpinya. Adalah belum cukupnya relawan pengurus.

Hingga sekarang, kata Yoki, SAKA berjalan ditopang empat orang saja, masing-masing dari tim adalah pegawai kantor yang punya waktu pendampingan hanya di Sabtu dan Minggu. Itu juga alasan kenapa SAKA membuka sekolah di weekend, bukan weekday.

Sekalipun waktu pendampingan sangat kurang, tapi tim SAKA sebisa mungkin memberikan kegiatan yang diharapkan cukup bisa membuat anak-anak Bantar Gebang memiliki skill yang dapat dimanfaat di masa depan. Perlu diketahui, anak-anak yang terlibat di SAKA mulai dari usia 3 hingga 16 tahun. Mereka kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok belajar sesuai usia.

Untuk anak usia 3-9 tahun, materi ajar yang diberikan fokus pada pendidikan dasar seperti membaca, menulis, menghitung, dan berbicara. Lalu, untuk anak usia 10-16 tahun, pendidikan berpusat pada pengembangan skill seperti musik, lukis, masak, multimedia, dan kerajinan tangan.

"Untuk menentukan kelas kreatif, kami berdiskusi terlebih dulu dengan anak-anak, apa yang mereka sedang ingin pelajari bersama SAKA. Ini kami lakukan karena kami yakin bahwa anak-anak itu memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi tapi minatnya pasti berbeda antara satu anak dengan anak lain," terang Yoki.

Dia pun mengajak seluruh masyarakat, tak terkecuali pemerintah, untuk mari bersama bergotong royong dalam pemenuhan hak-hak dasar anak.

"Di mana pun dan bagaimana pun latar belakang anak, mereka harus mendapat ruang dan kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan berkembang secara holistik, memberikan dampak baik bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat secara luas," tambahnya.

Selamat Hari Anak Nasional 2022 sekali lagi untuk seluruh anak Indonesia. Terkhusus untuk anak-anak Bantar Gebang, yakinlah kalau kalian semua bisa menggapai mimpi dan jangan pernah berhenti percaya akan hal itu. Kalian anak-anak luar biasa dan ingat, masih ada asa untuk kalian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini