Share

Monolog Di Tepi Sejarah: Belajar Sejarah Tak Selalu Harus lewat Buku Loh

Muhammad Sukardi, Okezone · Senin 15 Agustus 2022 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 15 612 2648240 monolog-di-tepi-sejarah-belajar-sejarah-tak-selalu-harus-lewat-buku-loh-TSQvyYGKCy.jpg Di Tepi Sejarah. (Foto: MPI/Sukardi)

MONOLOG 'Di Tepi Sejarah' edisi kedua berfokus pada seni dan sejarah. Itu kenapa, sosok seperti Sjafruddin Prawiranegara, Ismail Marzuki. Gombloh, Kassian Cephas, dan Emiria Soenassa dipilih untuk dibangkitkan karakternya.

Menurut Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbud ristek Ahmad Mahendra, sesuai dengan program 'Merdeka Belajar', lewat Monolog 'Di Tepi Sejarah' masyarakat bisa mengenal sejarah dengan cara yang berbeda.

"Belajar sejarah tidak harus lewat buku, tapi bisa lewat monolog dan salah satunya melalui 'Di Tepi Sejarah' ini," terang Ahmad dalam konferensi pers Monolog 'Di Tepi Sejarah' Musim Kedua, di M Block Space, Jakarta Selatan, Senin (15/8/2022).

Lagipula, lanjutnya, ini sejalan dengan 'Merdeka Belajar' yang diusung Mas Menteri Nadiem Makarim bahwa akses pendidikan bagi masyarakat harus inklusif. Terlebih, monolog 'Di Tepi Sejarah' ini akan tayang secara resmi di Youtube Budaya Saya dan Indonesiana TV mulai dari 17 Agustus 2022.

"Monolog ini akan memberi cara pandang baru dalam melihat sejarah, agar kebudayaan Indonesia semakin maju. 'Di Tepi Sejarah' adalah inisiasi yang memberi kontribusi," tambahnya.

Di Tepi Sejarah

Lebih lanjut, Happy Salma selaku pendiri Titimangsa dan produser pementasan 'Di Tei Sejarah' menjelaskan bahwa pemilihan kelima sosok di monolog edisi kedua ini tentu ada kaitannya dengan Hari Kemerdekaan, sekaligus memberitahu bahwa seni dan budaya adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa.

"Diperlukan riset yang panjang untuk bisa membuat setiap naskah, biasanya menghabiskan waktu 1-1,5 tahun. Dengan hadirnya monolog ini, diharapkan tercipta ruang diskusi di masyarakat bahwa sosok 'terpinggirkan' ini patut juga diangkat ke permukaan," ungkap Happy Salma.

"Itu kenapa, ada harapan bahwa video monolog lima judul ini bisa diputar bahkan dimainkan naskahnya di institusi pendidikan. Kami ingin membuka ruang diskusi supaya mereka sosok-sosok ini dapat panggungnya," tambahnya.

Ya, ada lima judul monolog 'Di Tepi Sejarah' edisi kedua ini. Pertama adalah 'Kacamata Sjafruddin', lalu 'Mata Kamera', 'Panggil Aku Gombloh', 'Senandung di Ujung Revolusi', hingga 'Yang Tertinggal di Jakarta'.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Sedikit penjelasan dari kelima judul monolog 'Di Tepi Sejarah' edisi kedua:

1. Kacamata Sjafruddin

Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin

Penulis Naskah: Ahda Imran

Pemain: Deva Mahenra

Tayang di Youtube Budaya Saya dan Indonesiana TV pada 17 Agustus 2022.

2. Mata Kamera

Sutradara: M.N. Qomaruddin

Penulis Naskah: Hasta Indriyana

Pemain: M.N. Qomaruddin

Tayang di Youtube Budaya Saya dan Indonesiana TV pada 18 Agustus 2022.

3. Panggil Aku Gombloh

Sutradara: Joind Bayuwinanda

Penulis Naskah: Guruh Dimas Nugraha dan Agus Noor

Pemain: Wanggi Hoed

Tayang di Youtube Budaya Saya dan Indonesiana TV pada 24 Agustus 2022.

Di Tepi Sejarah

4. Senandung di Ujung Revolusi

Sutradara: Agus Noor

Penulis Naskah: Putu Arcana dan Agus Noor

Pemain: Lukman Sardi

Penampilan Khusus: Akiva Sardi

Tayang di Youtube Budaya Saya dan Indonesiana TV pada 25 Agustus 2022.

5. Yang Tertinggal di Jakarta

Sutradara: Sri Qadariatin

Penulis Naskah: Felix K. Nesi

Pemain: Dira Sugandi

Tayang di Youtube Budaya Saya dan Indonesiana TV pada 31 Agustus 2022.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini