Share

Budaya Patriarki Masih Hambat Potensi Anak Perempuan di Indonesia

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Sabtu 27 Agustus 2022 10:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 26 612 2655339 budaya-patriarki-masih-hambat-potensi-anak-perempuan-di-indonesia-tMZkHoVZvL.jpg Ilustrasi Anak Perempuan. (Foto: Shutterstock)

INDEKS Kualitas Keluarga (IKK) Indonesia saat ini secara keseluruhan masih berada di angka 68 persen. IKK sendiri, merupakan salah satu ukuran keberhasilan pembangunan kualitas keluarga di Indonesia.

Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bidang Penanggulangan Kemiskinan Titi Eko Rahayu mengatakan, budaya patriarki masih menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kualitas keluarga Indonesia.

"Tantangannya kita kita lihat dari berbagai aspek ya, tidak hanya ekonomi, tapi juga psikososial, aspek sosial budaya juga. Kembali lagi pada budaya patriarki yang masih melihat atau menempatkan perempuan jadi orang nomor dua," kata Titi seperti dilansir dari Antara.

Anak Perempuan

Menurut Titi, saat ini tak sedikit masyarakat yang masih melupakan potensi para perempuan. Padahal, kata dia, perempuan melalui rahimnya berpotensi melahirkan generasi emas.

Selain itu, lanjut dia perempuan juga berpotensi di bidang ekonomi. Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan menyebabkan keterpurukan ekonomi, misalnya, Titi melihat perempuan sangat eksis menjalankan berbagai usaha untuk menopang ekonomi keluarganya.

"Saat Covid-19 juga perempuan tiba-tiba harus menjadi guru (karena sekolah online), ada juga yang mereka masih punya waktu untuk lingkungannya dengan berbagi masker, berbagi kebutuhan pokok, dan sebagainya," imbuh Titi.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Untuk itu, Titi mengatakan Kementerian PPPA terus berupaya menyuarakan kesetaraan gender sambil terus meningkatkan kualitas dan potensi para perempuan Indonesia melalui berbagai program.

"Tentu kami menggandeng banyak pihak untuk melakukan ini, termasuk melalui kampanye-kampanye. Kita juga memanfaatkan media sosial. Ketika kesetaraan gender itu sudah diperhatikan, kebijakannya sudah responsif gender, sudah ramah anak, produktivitasnya (perempuan) ternyata meningkat," ujar Titi.

Selain itu, Titi mengatakan pihaknya juga terus menyuarakan kesetaraan dalam pengasuhan. Artinya, pengasuhan anak tak boleh hanya dibebankan kepada perempuan sebagai ibu, tapi juga harus dilakukan oleh laki-laki sebagai ayah.

"Kami terus menyuarakan kesetaraan pengasuhan, artinya pengasuhan bersama, kecuali ya bagi perempuan yang jadi kepala keluarga atau single mom ya. Karena, keluarga kan harus memberikan dukungan pada perempuan-perempuan ini untuk menjalankan perannya," kata Titi.

"Bunda ini kan takdirnya melahirkan, menyusui, tapi mengasuh anaknya kan jadi kewajiban ayah dan bunda," imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini