Share

Anak Anda Caper? Coba Kenali Bahasa Cintanya

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Sabtu 27 Agustus 2022 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 27 612 2655694 anak-anda-caper-coba-kenali-bahasa-cintanya-RxRDraxA6l.jpg Ilustrasi Anak Nakal. (Foto: Shutterstock)

BANYAK orangtua memang bingung menghadapi anak yang terlalu aktif. Biasanya, mereka pun akan mencari-cari cara untuk mendapatkan perhatian dari orangtua.

Psikolog dari Universitas Indonesia Putu Andani mengatakan, cinta orangtua pada anak dapat disampaikan dengan berbagai bahasa cinta seperti pujian, pelukan, hingga waktu.

Jika cinta dari orang tua tidak terpenuhi, Putu mengatakan anak akan cenderung mencari cara agar dirinya merasa diakui oleh lingkungan sekitarnya. Tak jarang, dia juga menjadi anak yang kerap melakukan masalah.

Anak-Anak

"Misalnya anaknya caper, ada masalah di sekolah, dan sebagainya. Ya dia pikir aku lagi ngerasa enggak didengar nih, ya udah deh banting sesuatu supaya dilihat. Itu cara mereka, karena regulasi emosi anak kan belum matang," tutur Putu seperti dilansir dari Antara.

Selain itu, lanjut Putu, penting juga bagi orang tua untuk memastikan bahwa kebutuhan terpenuhi, baik kebutuhan anak maupun orang tuanya. Sayangnya, menurut dia, orang tua kadang melupakan hal ini karena banyaknya tuntutan dari lingkungan sekitarnya.

"Dari kita mau start jadi bunda aja, saat hamil, dari lingkungan itu pesannya jangan ini, jangan itu, harus ini harus itu. Jadi kita harus mengorbankan diri kita," ujar Putu.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"(Stress release) juga penting banget, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga kita, Saat kita release, ke anak juga akan lebih santai, lebih rileks, dan lebih happy," pungkasnya.

Sebelumnya, Putu Andani mengingatkan orangtua untuk tidak terpengaruh oleh tuntutan orang-orang di lingkungan sekitar mengenai tumbuh kembang si buah hati yang diasuhnya karena setiap anak memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda.

Pasalnya, tuntutan itu bisa menjadi internalisasi karena dianggap sebagai standar yang harus dipenuhi. Padahal, jadi ibu itu tidak Key Performance Index (KPI)-nya tidak segampang itu. Banyak faktor yang tidak bisa kita kontrol.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini