Share

Keseringan Pakai Medsos Bisa Sebabkan Kecanduan yang Berujung Gangguan Mental Loh

Martin Bagya Kertiyasa, Okezone · Rabu 14 September 2022 17:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 14 612 2667546 keseringan-pakai-medsos-bisa-sebabkan-kecanduan-yang-berujung-gangguan-mental-loh-p3I9Lv0XPu.jpg Ilustrasi Media Sosial. (Foto: Shutterstock)

MEDIA sosial awalnya dibuat untuk memudahkan seseorang berkomunikasi meskipun terbatas jarak. Tapi, seiring perkembangannya mereka yang sering menggunakan Instagram, Facebook, Twitter, TikTok, dan sejenisnya malah membuat penggunanya kecanduan.

Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, seseorang bisa sangat takut dan cemas bila tidak terhubung dengan akunnya walau hanya beberapa menit. Jika hal itu sampai terjadi, maka waspadalah! Mungkin, secara tidak sadar kamu sudah terkena sebuah gangguan yang disebut FOMO (Fear of Missing Out).

Secara bahasa, arti dari Fear of Missing Out adalah takut ketinggalan. FOMO adalah sebuah perasaan cemas atau takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan berita, tren, atau hype.

Rasa takut ketinggalan ini mengacu pada persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Akibatnya, kamu bisa memiliki rasa iri yang mendalam, bahkan kepercayaan diri ikut terpengaruh. Penyebab FOMO sering kali didahului dengan melihat media sosial orang lain.

FOMO tidak hanya melibatkan perasaan bahwa orang lain memiliki hal-hal yang lebih baik, tetapi juga perasaan kehilangan akan sesuatu yang dirasa penting. Perasaan ini dapat berlaku bagi siapa saja. Lalu, bisa membuat kamu selalu merasa tidak berdaya karena merasa telah melewatkan sesuatu yang besar.

Sebenarnya FOMO sudah ada sejak berabad-abad lalu. Namun, ketika media sosial muncul, gangguan ini mulai terlihat dan lebih banyak diteliti. Memang, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menjadi penyebab FOMO. Media sosial mempercepat fenomena FOMO dalam berbagai cara. Pasalnya, media sosial menyediakan ruang untuk dapat ‘membandingkan’ kehidupanmu dengan kehidupan orang lain yang terlihat ‘luar biasa’.

Sebagai catatan, membanding-bandingkan kehidupan yang terlihat di media sosial adalah salah satu gejala FOMO. Kamu merasa kehidupan pribadimu lebih buruk dibandingkan kehidupan teman-teman yang terlihat di media sosial.

Media sosial seperti menciptakan platform untuk ‘menyombongkan diri’. Di sana, beragam benda, peristiwa, dan kebahagiaan tampaknya saling bersaing.

Banyak orang yang membandingkan pengalaman mereka yang terbaik dan sempurna. Hal inilah yang mungkin akhirnya membuatmu bertanya-tanya dan berpikir apa yang kurang dari hidupmu.

Penelitian menemukan, anak remaja cenderung lebih sering menggunakan media sosial dan akhirnya mengalami FOMO. Anak perempuan yang mengalami depresi cenderung lebih sering menggunakan media sosial. Sementara itu, pada anak laki-laki, kecemasan adalah penyebab dari seringnya menggunakan media sosial. Hal ini membuktikan, penggunaan media sosial dapat memicu tingkat stres yang lebih tinggi akibat rasa takut ketinggalan.

Medsos

Menurut sejumlah penelitian, F0MO juga dapat dialami oleh segala usia. Sebuah penelitian dalam jurnal Psychiatry Research menemukan, FOMO berhubungan dengan penggunaan media sosial. Namun, tidak berkaitan dengan usia atau jenis kelamin. Ada sejumlah dampak buruk dari fenomena Fear of Missing Out. Berikut ini beberapa di antaranya, seperti dilansir dari KlikDokter.

1. Menimbulkan Obsesi

Memantau media sosial secara terus-menerus, dapat membuat seseorang menjadi terobsesi untuk menciptakan citra dan selalu tampil sempurna di media sosial. Nah, adanya obsesi ini dapat timbul karena kamu sering melihat isi media sosial orang lain yang dianggap menggambarkan kehidupan yang sempurna.

2. Menurunkan Rasa Percaya Diri

Selain menimbulkan obsesi kehidupan yang sempurna, FOMO juga dapat mengikis rasa percaya diri seseorang. Isi dan gemerlap dari media sosial dapat membuat individu menjadi minder dan hilang rasa kepercayaan diri karena tidak bisa menyamai isi dari media sosial yang dia lihat.

3. Menyita Waktu

Dampak lainnya berhubungan dengan waktumu. Ya, memantau media sosial secara terus-menerus dapat menyita dan membuang waktu. Waktu yang dapat kamu gunakan untuk hal-hal lain seperti membaca buku, melakukan hobi, bersosialisasi, dan lainnya menjadi hilang karena perhatian teralihkan untuk media sosial.

4. Menghabiskan Uang

Rasa takut ketinggalan membuat orang yang terkena FOMO berusaha untuk selalu mengikuti tren atau sesuatu yang sedang hype. Tidak jarang tren ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang diperlukan.

Sebagai contoh, kamu ikut hype membeli gawai yang baru saja dirilis. Padahal, gawai yang kamu punya masih bagus. Hal tersebut terjadi akibat adanya rasa takut akan ketinggalan. Akibatnya, kamu akan menghabiskan uang untuk gawai yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Khawatir akan fenomena ini? Kamu bisa melakukan beberapa cara untuk mengatasi gangguan FOMO, seperti:

Ubah Fokus

Dibanding fokus pada kekurangan yang dimiliki, cobalah perhatikan apa yang telah kamu punya. Kamu bisa mulai mengikuti akun orang-orang yang memberikan dampak positif pada kehidupan. Unfollow orang-orang yang cenderung sombong dan memberi dampak buruk pada dirimu.

Buat Jurnal Pribadi

Sering kali orang menggunakan media sosial sebagai sebuah ‘jurnal elektronik’ untuk menyimpan apa yang sudah dilakukan atau dialami. Namun, hal ini dapat membuat kamu berharap akan komentar orang lain terhadap pengalamanmu dan akhirnya jadi ketergantungan dengan komentar tersebut.

Cobalah untuk membuat jurnal pribadi tanpa memerlukan ‘pengakuan’ publik yang sering didapat dari media sosial. Dengan melakukan hal ini, kamu dapat te

Khawatir akan fenomena ini? Kamu bisa melakukan beberapa cara untuk mengatasi gangguan FOMO, seperti:

Ubah Fokus

Dibanding fokus pada kekurangan yang dimiliki, cobalah perhatikan apa yang telah kamu punya. Kamu bisa mulai mengikuti akun orang-orang yang memberikan dampak positif pada kehidupan. Unfollow orang-orang yang cenderung sombong dan memberi dampak buruk pada dirimu.

Buat Jurnal Pribadi

Sering kali orang menggunakan media sosial sebagai sebuah ‘jurnal elektronik’ untuk menyimpan apa yang sudah dilakukan atau dialami. Namun, hal ini dapat membuat kamu berharap akan komentar orang lain terhadap pengalamanmu dan akhirnya jadi ketergantungan dengan komentar tersebut.

Cobalah untuk membuat jurnal pribadi tanpa memerlukan ‘pengakuan’ publik yang sering didapat dari media sosial. Dengan melakukan hal ini, kamu dapat terbantu lepas dari FOMO.

Carilah Hubungan dengan Orang di Dunia Nyata

Sering kali kamu merasa kesepian dan mulai mencari hubungan dengan orang lain di media sosial. Sayangnya, menggunakan media sosial untuk mencari hubungan belum tentu dapat berdampak baik. Karena itu, untuk mengatasi FOMO, salah satunya caranya adalah mulai membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar, seperti keluarga dan teman.

Fokus pada Rasa Syukur

Penelitian menunjukkan, bersyukur dapat meningkatkan semangatmu dan orang-orang di sekitar. Walaupun terkesan sulit, kamu bisa mulai mencoba fokus pada nikmat yang sudah dimiliki daripada memikirkan ‘kekurangan’ (yang dapat muncul akibat membandingkan diri dengan orang lain di media sosial).

Harus disadari, apa yang dilihat di media sosial belum tentu sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kamu tidak selalu tahu cerita sepenuhnya di balik gambar-gambar yang dilihat.

Sering kali kamu merasa kesepian dan mulai mencari hubungan dengan orang lain di media sosial. Sayangnya, menggunakan media sosial untuk mencari hubungan belum tentu dapat berdampak baik. Karena itu, untuk mengatasi FOMO, salah satunya caranya adalah mulai membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar, seperti keluarga dan teman.

Fokus pada Rasa Syukur

Penelitian menunjukkan, bersyukur dapat meningkatkan semangatmu dan orang-orang di sekitar. Walaupun terkesan sulit, kamu bisa mulai mencoba fokus pada nikmat yang sudah dimiliki daripada memikirkan ‘kekurangan’ (yang dapat muncul akibat membandingkan diri dengan orang lain di media sosial).

Harus disadari, apa yang dilihat di media sosial belum tentu sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kamu tidak selalu tahu cerita sepenuhnya di balik gambar-gambar yang dilihat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini