Share

Berjaya di Tahun 1990-an, Kabupaten Pinrang Bangkitkan Kembali Budidaya Kakao

Dimas Andhika Fikri, Okezone · Kamis 22 September 2022 20:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 298 2673095 berjaya-di-tahun-1990-an-kabupaten-pinrang-bangkitkan-kembali-budidaya-kakao-xVurzegPH7.jpg Kabupaten Pinrang kembali bangkitkan budidaya kakao (Foto: Dimas Andhika/MPI)

KABUPATEN Pinrang menyimpan potensi sumber daya alam yang begitu berlimpah. Selain menjadi salah satu penghasil padi terbesar di Sulawesi Selatan, Pinrang juga merupakan produsen kakao terbesar di provinsi tersebut.

Pinrang bahkan masuk dalam urutan 5 besar produsen kakao terbesar di Indonesia dan mencapai masa kejayaan di tahun 1990 hingga 2000-an.

Sayang beribu sayang, masa-masa emas itu perlahan sirna usai serangan penyakit dan hama menyerang ribuan hektar perkebunan kakao sepanjang tahun 2000-an bahkan hingga saat ini. Hal tersebut tentunya memengaruhi jumlah produksi dan kualitas kakao yang dihasilkan.

Para petani pun mulai beralih menanam komiditi lain seperti padi, kopi, hingga banting setir membuka tambak ikan. Permasalahan ini sebetulnya telah mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pinrang dan berbagai lembaga terkait.

Bantuan demi bantuan telah dilakukan demi mengembalikan kembali kejayaan Pinrang sebagai salah satu jagoan kakao Indonesia. Hingga pada tahun 2012 silam, Mondelez Internasional menginisiasi dibentuknya program binaan berkelanjutan bertajuk Cocoa Life.

Tantangan budidaya kokoa di Pinrang

Budidaya Kakao Kabupaten Pinrang

Andi Sitti Asmayanti selaku Director Sustainability South East Asia dari Mondelez International mengatakan, terdapat sejumlah permasalahan utama yang tengah dihadapi para petani kokoa di Kabupaten Pinrang.

Beberapa di antaranya seperti permasalahan kesuburan tanah, pohon menua, hingga proses budidaya yang belum mengadopsi nilai-nilai berkelanjutan (sustainable).

"Ditambah lagi adanya perubahan iklim yang juga menurunkan produktivitas. Selain itu masih ada praktik deforestasi yang justru menambah kerusakan iklim itu sendiri," papar Yangi saat konferensi pers Anniversary 10 Tahun Cocoa Life di Pinrang, Sulawesi Selatan, Selasa 20 September 2022 .

Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, Cocoa Life mencetuskan sebuah teknik budidaya yang disebut dengan istilah Good Agricultural Practices (GAP). Dalam GAP, para petani tidak hanya diedukasi melakukan budidaya yang berkelanjutan saja, namun ada juga pelatihan-pelatihan lain yang dapat menunjang kesejahteraan mereka.

Misalnya, program Village Savings and Loans Association (VSLA) alias investasi pinjam, pemberdayaan komunitas berbasis pendekatan Community Action Plans (CAP), serta menyediakan program khusus untuk para petani perempuan sebagai reaksi dari permasalahan keseteraan gender di industri pertanian.

"Program ini telah berhasil memberdayakan lebih dari 2.400 komunitas dengan memprioritaskan investasi di infrastruktur sekolah, air dan kesehatan/sanitasi," terang Yanti.

Lebih lanjut mengenai pertanian kakao di Indonesia berdasarkan data International Cocoa Organization (ICCO) 2022, tercatat bahwa Indonesia termasuk ke dalam 10 negara penghasil kakao terbesar dunia dan menjadi yang terbesar di Asia.

β€œDan saat ini kami telah berhasil memberdayakan lebih dari 40.000 petani, dan menjangkau lebih dari 68.000 anggota komunitas kakao di wilayah Sumatera Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara,” tambah Yanti.

Upaya peremajaan tanaman kokoa oleh Kabupaten Pinrang

Menyadari potensi besar yang dimiliki wilayahnya, pemerintah Kabupaten Pinrang juga tidak mau tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan, guna membangkitkan kembali kejayaan kokoa di kabupaten mereka.

Salah satu fokus utama mereka saat ini adalah peremajaan tanaman kakao. Sebagai langkah awal, mereka telah mencanangkan sejumlah program pendukung seperti penyediaan sarana dan prasarana untuk para petani kokoa termasuk pemberian bibit kakao, pestisida nabati sebanyak 5 ribu liter, hingga pembangunan irigasi tanah bertenaga solar cell.

Bantuan tersebut diberikan kepada sekitar 1.025 ribu petani yang terbagi menjadi 75 kelompok. Program peremajaan terus didorong mengingat di tahun 1990-an, Pinrang sejatinya memiliki potensi lahan pertanian kakao sebanyak 18.900 hektar.

Budidaya Kakao Kabupaten Pinrang

Sayangnya, potensi tersebut semakin menurun hingga tersisa 10.600 hektar yang mampu menghasilkan kakao berkualitas. Bila dirincikan, terjadi penurunan potensi mencapai 57% dari masa-masa awal kejayaan Kabupaten Pinrang.

"Dari potensi lahan itu, di tahun 2021 kemarin produktivitas kakao kami hanya menyentuh angka 9.000 ton. Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) besar bagi kami untuk terus meningkatkan produktivitas melalui program peremajaan," ujar Ir. Jabbar Alu As'ad, ST. MSi selaku Kepala bidang perkebunan, dinas peternakan dan perkebunan Kabupaten Pinrang.

Ditambah lagi banyaknya keluhan petani terkait soal harga jual kakao. Sebagai informasi, saat ini kakao di Pinrang dijual dengan harga Rp28-30 ribuan per kilogram.

Meski mengikuti standar global, harga tersebut ternyata masih lebih rendah dibandingkan harga kakao di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Harga kakao di sana menyentuh Rp42 ribu per kilogram.

Persoalan harga ini sebetulnya dapat diselesaikan bila petani kakao Pinrang dapat meningkatkan kualitas dari produk mereka sendiri. Tentunya dibutuhkan program pelatihan dan edukasi yang komprehensif untuk mencapai tujuan tersebut.

"Harga kakao itu memang dilihat dari sejumlah faktor seperti kualitas kadar air, lalu ada yang namanya binkon yang jadi pengukur kualitas. Nah kalau standar di Indonesia sendiri yang berlaku adalah di dalam 100 gram itu terdapat 115 biji kakao. Ketika misalnya dia melewati standar tsb itu baru ada klaim kualitas namanya. Kadar air pun begitu. Yang menjadi standar kita adalah 7-8 persen, jadi ketika petani jual di atas dari 8 persen nah itu akan mempengaruhi kualitas harga," ujar Umar Jamaluddin, Agronomist dari Barry Calebaut.

Budidaya Kakao Kabupaten Pinrang

Kuncinya, lanjut Umar, para petani dari sekarang harus diedukasi bagaimana melakukan treatment pasca panen. Karena pada tahap inilah kualitas biji kakao ditentukan.

Untuk kadar air misalnya, dapat ditekan bila proses pengeringan atau penjemuran dilakukan dengan baik dan benar. Tidak boleh nanggung dan tidak boleh terlalu lama, karena dapat memicu timbulnya jamur.

"Dalm proses pengeringan itu terkadang masih ada petani yang tidak memisahkan antara biji dan plasenta. Itu juga jadi faktor penurunan harga, karena plasenta dapat merusak kualitas biji kakao, dan dihitung sebagai sampah. Jadi faktor-faktor itu yang perlu kita edukasi dalam proses pasca panen kepada petani," tandasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini