Share

Hati-hati! Sering Suntik Anti-Keriput Picu Resistensi yang Berbahaya

Muhammad Sukardi, Okezone · Jum'at 30 September 2022 07:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 611 2677688 hati-hati-sering-suntik-anti-keriput-picu-resistensi-yang-berbahaya-mRdJY29g7o.JPG Suntik anti keriput (Foto: Freepik)

SIAPA sih yang tidak mau wajahnya mulus tanpa keriput dan kerutan? Banyak orang, terutama wanita yang mendambakan ingin selalu tampil mulus tanpa kehadiran keriput.

Maka dari itu, treatment seperti suntik anti keriput pun diminati banyak orang. Nah, jika Anda termasuk salah satu yang sering melakukan suntik anti-keriput, wajib berhati-hati akan bahaya yang mengintai.

Sebab, penggunaan anti-keriput Botulinum Toxin A (BoNT-A) dalam terapi estetika berkepanjangan ternyata berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Efek buruk paling nyata adalah kondisi imunoresistensi atau NAb-induced secondary nonresponse (SNR).

Dampak buruk tersebut artinya anti-keriput yang diinjeksikan tidak lagi merespons secara efektif, efeknya tidak sebaik injeksi pertama. Ini membahayakan, karena jika suatu saat Anda membutuhkan terapi injeksi BoNT-A untuk kondisi penyakit serius, terapi jadi tidak efektif lagi.

Itu kenapa, penggunaan BoNT-A sangat murni dianggap bisa meminimalisir risiko pembentukan NAb.

" Terapi BoNT-A sering kali dilakukan seumur hidup, kami setuju bahwa menggunakan formulasi BoNT-A yang sangat murni dengan risiko imunogenik terendah untuk meminimalkan risiko pembentukan NAb akan menjadi keputusan klinis yang bijaksana," terang ahli bedah plastik dr. Wilson Ho, dikutip dari siaran resminya dari laporan studi 'Emerging trends in botulinum neurotoxin A resisten: An international multidisciplinary review and consensus, Jumat (30/9/2022).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Melihat ada risiko tersebut, dr. Wilson mengimbau kepada para ahli untuk lebih bijaksana dalam memberikan suntikan anti-keriput kepada pasien. Apalagi jika pasien punya riwayat perawatan seperti perawatan BoNT-A ekstensif.

Tidak hanya itu, diharapkan juga para praktisi mempertimbangkan implikasi dari pilihan perawatan tertentu sepanjang riwayat medis pasien.

"Dari perspektif klinis, memakai formulasi BoNT-A yang sangat murni dan memberikan ke pasien dalam dosis efektif minimum, dengan interval yang tepat bisa membantu membatasi perkembangan kekebalan," tambahnya.

Lebih lanjut, Konsultan Dermato-venereologist dari Universitas Indonesia dr Lis Surachmiati Suseno menerangkan bahwa BoNT-A adalah obat penting yang telah dan masih digunakan secara global selama lebih dari 3 dekade, termasuk di Indonesia.

Penggunaan BoNT-A sendiri tidak hanya untuk tujuan dermatologis dan kosmetik estetika semata, tapi juga dibutuhkan pada indikasi medis tertentu.

Sayangnya, studi telah membuktikan bahwa pajanan berlebihan BoNT-A dapat menyebabkan resistensi atau efek 'ajaib' BoNT-A sebagai anti-keriput hilang lebih cepat.

"Jika hasil injeksi BoNT-A biasanya bertahan 6 sampai 9 bulan, kalau sudah resisten, kerutan bisa kembali muncul dalam 3 sampai 4 bulan saja. Kalau sudah begini, pasien sudah dikatakan mengalami SNR," papar dr. Lis

Ketika pasien sudah didiagnosis SNR, (butuh tindakan injeksi BoNT-A pada kasus yang lebih serius, misalnya masalah saraf), maka terapi BoNT-A jadi tidak lagi efektif.

"Karena itu, kami mengedukasi masyarakat agar lebih bijak untuk tidak berlebihan melakukan injeksi BoNT-A. Para praktisi pun diimbau untuk berhati-hati saat menaikkan dosis BoNT-A ketika hasil injeksi tidak lagi memperlihatkan efektivitas seperti injeksi pertama," pungkas dr. Lis

 BACA JUGA:3 Hal Dasar Perawatan Kulit yang Tanpa Sadar Dilewatkan Orang

BACA JUGA:4 Produk Perawatan Kulit Masa Kini untuk Lawan Jerawat

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini